Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mimpi Mengubah Nasib, Herlambang Pemuda Kulon Progo ini Malah Terjerat TPPO, Dipaksa Jadi Scammer di Kamboja Berhasil Kabur. Ini Kisahnya!

Anom Bagaskoro • Senin, 17 November 2025 | 20:59 WIB
SOSOK: Herlambang menceritakan kegetiran selama bekerja di Kamboja. 
SOSOK: Herlambang menceritakan kegetiran selama bekerja di Kamboja. 

KULON PROGO - Merantau ke negeri seberang mungkin menjadi cara efektif mengubah nasib.

Namun, berbeda pengalaman dengan Herlambang, 23.

Pemuda asal Kalurahan Sindutan, Kapanewon Temon ini, justru terjerat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), saat bekerja sebagai scammer di Kamboja.

Beruntung dia berhasil kabur.

Kisah tragis ini, diungkapkan Herlambang saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Senin (17/11/2025).

Berikut kisahnya!

Rumah yang dihuni, ayah dan adiknya itu sungguh menggambarkan kondisi perekonomian keluarga mereka.

Hanya berdinding batako dan gypsum berukuran 5×7 meter, keluarganya masuk kategori miskin.

Ekonomi keluarga bergantung kepadanya.

"Saya mau bekerja ke luar negeri itu, untuk mengubah nasib. Namun ternyata jalannya tidak sesuai yang diinginkan," ucap Herlambang, saat bercerita kepada Radar Jogja, Senin (17/11/2025).

Photo
Photo

Herlambang menjelaskan, tahun 2024 lalu berencana bekerja di Taiwan. Beberapa seleksi telah dijalani, namun ia gagal lolos.

Agensi yang menyeleksinya, lantas menawarkan pekerjaan sebagai penjaga toko di Thailand dengan biaya administrasi Rp 25 juta.

Sudah kadung ingin merubah nasib, Herlambang terpaksa meminjam bank dengan mengagunkan sertifikat tanah untuk mendaftar bekerja di Thailand.

Akhir Agustus 2024 lalu, Herlambang diberangkatkan melalui Jakarta dan sempat transit di Malaysia.

Bukannya sampai Thailand, Herlambang justru mendarat di Kamboja.

Kejanggalan terus berlanjut, saat dirinya dibawa ke sebuah gedung besar tempat bekerja.

"Hampir setahun saya kerja disana, pekerjaan utama sebagai scammer yang memberikan telfon palsu," ungkapnya.

Bukannya menjadi penjaga toko seperti yang dijanjikan, Herlambang justru menjadi operator telfon untuk tindakan penipuan.

Setiap hari dari pukul 08.00-20.00 WIB dirinya melakukan penipuan via telepon sebanyak 140 kali.

Penipuan menargetkan orang Indonesia, dengan cara scam APK melalui Whatsapp.

Bukan tanpa risiko, pekerjaan Herlambang memiliki target.

Setiap harinya, dua korban yang menginstal APK harus didapat.

Lantaran, jika tak mendapatkan korban gajinya akan dipotong hingga berujung penyiksaan.

"Gajinya sekitar Rp 10 juta, kadang-kadang dipotong karena tidak sesuai target," ungkapnya.

Bukan hanya pemotongan gaji, penyiksaan bagi pekerja yang tak memenuhi target dan membuat kesalahan terjadi.

Herlambang mengaku, pernah dipukul karena membuat kesalahan saat membaca naskah penipuan.

Teman akrabnya, juga sempat bercerita pernah disengat listrik karena membuat kesalahan besar.

Selama bekerja satu tahun, total empat kali penyiksaan telah terjadi.

Selama itu pula, Herlambang memikirkan cara agar bisa kabur dari perusahaan itu.

Namun, perusahaan itu memiliki cukup gedung besar dan sangat tertutup.

Bahkan untuk sekedar makan dan tidur, dirinya tak bisa keluar dari kawasan.

"Tempatnya tertutup ada tiga zona, zona 1 dan 2 memang tidak ada celah," ungkapnya.

Herlambang dan 10 rekannya, akhirnya berhasil memanfaatkan momentum.

Saat bekerja sebagai scamer di zona 3, dirinya dan temannya melakukan rencana kabur.

Bermodal nekat, Herlambang dan rekannya berhasil melompat dinding setinggi lima meter.

Tak sampai situ, perjuangannya berlanjut dengan menyusuri sungai perbatasan Kamboja-Thailand.

Hingga akhirnya berhasil meninggal tempat kerjanya.

Dari situlah, Herlambang dapat terhubung ke dunia luar.

Dirinya mulai mencari bantuan dari orangtuanya, termasuk ke KBRI Kamboja.

Total 17 hari dirinya, menunggu bantuan dari keluarganya.

Selama itu pula, Herlambang tak memiliki tempat tinggal dan hidup dalam kejaran agen perusahaan.

"Jadi yang meminta ijin pulang ke KBRI itu cukup banyak, jadi kami tidak bisa menginap di sana," ungkapnya.

Herlambang menyampaikan, kejadian yang menimpanya ternyata juga dirasakan WNI lain.

Bukan hanya segelintir orang, Namun hampir ratusan WNI terpantau hidup mencari pendampingan di KBRI.

Beruntungnya, Herlambang mendapatkan bantuan dari Pemkab dan Pemkal.

Awal November lalu, dirinya berhasil pulang ke tanah air. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#scammer di Kamboja #Terjerat TPPO #kamboja #KBRI Kamboja #Kalurahan Sindutan #Herlambang Pemuda Kulon Progo #perekonomian #mengubah nasib