KULON PROGO - Harga komoditas cabai masih fluktuatif. Akan tetapi, sejumlah sentra pertanian cabai di Bumi Binangun memprediksi harga cabai jelang natal dan tahun baru (Nataru) nanti akan mengalami peningkatan.
Ketua Asosiasi Petani Cabai (Champion Cabai) Kulon Progo Sukarman menjelaskan, skema prediksi kenaikan harga cabai Nataru nanti. Beberapa faktor disebutkan menjadi pemantik kenaikan harga telah dirasakan pertengahan November ini.
"Ini memang masih fluktuatif, prediksinya akan naik Desember nanti," ucap Sukarman, Minggu (16/11).
Sukarman menyampaikan, hampir semua sentra cabai di Pulau Jawa telah memasuki masa panen.
Sama seperti di Bumi Binangun, masa panen seharusnya mampu menurunkan harga komoditas cabai.
Mulai dari cabai keriting merah, cabai keriting hijau, cabai rawit merah, dan hijau. Namun, November ini justru harga masih mengalami fluktuasi.
Di minggu ini saja, fluktuasi harga cabai keriting merah masih bertengger di angka Rp 40 ribu. Beberapa komoditas cabai lain juga terus mengalami kenaikan.
Idealnya, dengan panen melimpah di beberapa daerah, harga cabai akan mengikuti pasar, yang membuat penurunan harga.
"Seluruh daerah sentra cabai mengeluhkan, temuannya cabai banyak membusuk sebelum dipanen," ungkapnya.
Analisa kenaikan harga cabai telah diprediksi sejak Oktober lalu. Lantaran, beberapa daerah yang memasuk masa tanam cabai justru diguyur hujan lebat. Menyebabkan fase vegetatif cabai terganggu.
Masuk musim penghujan, cabai yang mulai dipanen di daerah sentra pertanian ditemukan penyakit antraknose (patek) dan fungi (jamur).
Dua penyakit inilah yang menjadi penyebab, hasil panen tak bisa dijual langsung ke pasar. Lantaran, hampir 30% hasil panen diprediksi mengalami pembusukan. Kondisi ini, mulai dirasakan sejumlah petani di Kulon Progo.
"Kemungkinan naik sampai diatas Rp 50 ribu, karena sentra cabai di Pulau Jawa menemui masalah yang sama," ungkapnya.
Sebenarnya petani sepertinya, telah berupaya menekan penyebaran dua penyakit itu. Namun, kebanyakan usaha gagal. Lantaran, kedua penyakit gampang meneyebar saat musim penghujan.
Sementara itu, petani cabai di Galur Suharyanti membenarkan kondisi panen yang terserang penyakit.
Menurutnya, hampir 50% hasil panen miliknya tak layak dijual ke pasar. Pasalnya, hasil panen membusuk saat dipetik dari pohon.
"Banyak hujan, umur satu bulan saja sudah banyak mati, sekarang panennya kurang bagus," ungkapnya.
Suharyanti membandingkan panen lalu yang relatif memberikan untung bagi petani. Kendati tahun lalu harga terjun bebas di angka Rp 15 ribu per kilogram, petani sepertinya memperoleh hasil panen yang melimpah hampir satu ton tiga kuintal.
Namun, di tahun ini terjadi penurunan hasil panen layak jual yang hanya mencapai enam kuintal. Kendati harga mahal, petani tetap tak mampu mengambil banyak keuntungan. Lantaran, beban operasional untuk pengendalian penyakit dan hama cukup tinggi. (gas)
Editor : Bahana.