KULON PROGO - Peribahasa "Kasih Orang Tua Sepanjang Masa, Kasih Anak Sepanjang Galah" cocok untuk menggambarkan kondisi Keluarga Kawiyem.
Di rumahnya yang telah reot, hidup sepasang lansia berjuang merawat putera-puteranya yang terkena gangguan jiwa.
Kisah Keluarga ODGJ ini, berawal saat Radar Jogja mendapatkan informasi dan mendatangi langsung rumah keluarga itu.
Alamatnya di Padukuhan Trimulyo, Kalurahan Sogan, Kapanewon Wates berdiri rumah dinding batako dengan gebyok lusuh menyekat ruang-ruang kecil.
Rangka atap dengan jelaga hitam diatasnya, semakin menambah hiasan rumah.
Di situlah keluarga dengan mayoritas anggotanya mengalami gangguan jiwa hidup dan beraktivitas seperti layaknya masyarakat biasa.
Namun, dibalik kenormalan itu ada sosok pasutri lansia Kawiyem dan Misman.
Pasutri inilah, yang selama ini merawat keluarga ODGJ.
"Anak ada enam, putera semua, tiga seperti ini (gangguan jiwa)," ucap Kawiyem,74, saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Jumat (7/11).
Kawiyem menceritakan memiliki enam putera. Dari enam puteranya, tiga diantaranya telah hidup mandiri dan berkeluarga.
Akan tetapi, untuk tiga putera lainnya tak bisa hidup mandiri. Lantaran, ketiga puteranya mengidap gangguan jiwa.
Peristiwa gangguan jiwa yang menghantam ketiga anaknya berawal saat, anak-anaknya telah menginjak umur 20 tahunan di tahun 2010 silam.
Saat itu, salah satu anaknya mengalami depresi akut hingga menyebabkan gangguan jiwa.
Tak selang beberapa tahun, kedua anak lainnya mengalami gangguan jiwa.
Bahkan anaknya yang telah bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit mengalami ganguan jiwa. Akibatnya, keluarganya diisi oleh ODGJ.
Lantaran, beberapa anaknya telah memutuskan hidup mandiri dengan keluarga baru. Praktis, tanggung jawab merawat keluarga ODGJ berada di tangan pasutri lansia itu.
"Jam 7 pagi, jam 3 sore rutin memandikan, menghidangkan makanan sampai memberi obat," ungkapnya.
Kawiyem menjelaskan, upaya mengobati ketiga anaknya telah dilakukan.
Bahkan usaha penggilingan padi miliknya terpaksa dijual untuk membiayai pengobatan.
Berulangkali pengobatan rumah sakit dilakukan tak membuahkan hasil.
Lantaran, ketiga anaknya sering kambuh saat kembali dari masa rehab di rumah sakit khusus gangguan jiwa.
Hingga kini kegiatan pasutri itu, merawat dua anaknya.
Lantaran, salah satu anaknya dengan gangguan jiwa pergi dari rumah tanpa kembali.
Setiap harinya, pasutri ini layaknya orangtua yang merawat bayi. Menjadi rutinitas, keduanya memandikan anak mereka dan menyuapi dengan makanan.
Tak jarang, mereka dibuat kebingungan dengan aktivitas kedua anaknya. Lantaran, kedua anaknya pernah melakukan tindakan pencurian dan mengganggu masyarakat sekitar.
Akan tetapi, pasangan ini tetap merawat kedua ankanya.
Sejatinya, pasutri ini tak memiliki pekerjaan tetap. Misman yang berprofesi sebagai buruh tani tak bisa mengandalkan penghasilannya untuk membiayai kebutuhan rumah tangga.
"Nyambi gadhuh sapi kali wedhus, tiap hari nggih susah," ungkapnya.
Sosok perempuan ini kini telah memasuki masa senjanya.
Dia berharap kedua anaknya dapat memperoleh perawatan yang jelas.
Di samping itu, dengan kondisinya yang tak lagi muda, merawat anak-anak mereka tak seperti dahulu.
Keluarganya kini menunggu uluran tangan dari pemerintah, untuk memasukkan kedua anaknya ke panti asuhan.
Tujuannya, agar kedua anaknya mendapat perawatan.
Sementara itu, Lurah Sogan Indro Kurnianto membenarkan kondisi keluarga tersebut.
Selama ini, pihak kalurahan telah membantu secara probadi untuk menyuplai kebutuhan pokok dan obat.
Bahkan beberapa kali, pihaknya membantu masalah pengobatan di rumah sakit.
"Keluarga ini masuk PKH, dapat bansos dan kami ruti mengunjungi," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva