KULON PROGO - Produksi udang hasil budidaya tambak di Kulon Progo diprediksi mengalami penurunan.
Indikasi penyebabnya karena air laut tercemar limbah tambak itu sendiri.
Analis Akuakultur Ahli Muda Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo Ade Saepudin menjelaskan, potensi penurunan jumlah produksi udang.
Prediksinya, produksi udang menurun cukup drastis tahun ini. Di tahun-tahun sebelumnya, produksi udang di atas seribu ton.
"Kami sudah memantau beberapa tambak, tahun ini diprediksi turun, September ini saja baru 234 ton udang," ucap Ade, Senin (27/10/2025).
Ade menjelaskan, penurunan produksi udang terus menerus terjadi.
Selama dua tahun terakhir penurunan produksi cukup signifikan.
Padahal, di tiga tahun ke belakang produksi cukup stabli diatas dua ribu ton setiap tahun.
Penurunan disebabkan beberapa faktor.
Paling utama berkaitan dengan petambak yang gulung tikar.
Wilayah pesisir Kulon Progo sempat menjadi primadona bagi petambak udang.
Namun, banyak petambak yang terpaksa gulung tikar akibat masalah permodalan.
Dari catatan Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo, jumlah petambak udang mengalami penurunan.
Tiga tahun lalu jumlah petambak berkisar 50 orang. Merosot hingga di tahun 2025 ini, menyisakan 36 petambak.
"Dari 36 petambak, yang aktif produksi hanya 10 orang," ujarnya.
Dampak penurunan jumlah tambak berjalan lurus dengan jumlah produksi.
Lantaran, satu kolam tambak udang mampu menghasilkan satu ton udang dalam sekali siklus panen. Rata-rata petambak memiliki lima sampai tujuh kolam tambak.
Penurunan jumlah produksi udang, juga diperkuat dengan pengolahan air dalam budidaya udang.
Kebanyakan tambak di Kulon Progo masih terbatas dalam teknologi pengolahan air atau IPAL tambak.
Lantaran, tambak di Kulon Progo bukan skala kawasan industri. Namun, bersifat tambak rakyat dengan teknologi sedang atau semi intensif.
"Petambak tidak memiliki IPAL, akhirnya air tambak dikembalikan ke pantai," ujarnya.
Perilaku mengembalikan limbah tambak inilah yang juga menyumbang penurunan jumlah produksi.
Air bekas tambak, sewajarnya dapat diendapkan sebelum dikembalikan ke laut.
Tujuannya, mencegah air laut terkontaminasi bakteri dari limbah tambak sebelumnya.
Kontaminasi ini, berpengaruh besar pada perkembangan udang.
Jika air tak disesuaikan, maka kematian udang di umur 40 hari dapat terjadi sewaktu-waktu.
Padahal untuk mencari benur, petambak cukup kesulitan di wilayah Bumi Binangun.
Sementara itu, Petambak Udang Kalurahan Jangkaran Mulyadi membenarkan jumlah penurunan produksi setiap tahunnya. Ia tak menampik, penyebab penurunan adalah air laut.
"Air laut cukup berpengaruh, kalau airnya jelek bisa menyebabkan kematian walaupun tidak semua," ujarnya.
Petambak yang telah menekuni budidaya udang belasan tahun itu, mengaku air laut lima tahun terakhir tak sesuai dengan kebutuhan budidaya.
Penyebabnya, air laut telah terkontaminasi dengan zat-zat yang berasal dari tambak udang. Padahal air laut nantinya dipompa kembali untuk kebutuhan air tambak. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva