Namun, hal itu tak akan ditemukan di Kalurahan Kaliagung. Karang Taruna Tunas Harapan Kaliagung yang menghimpun anak-anak muda mampu menjawab permasalahan itu.
Berbekal pemahaman otodidak, mereka berhasil mengolah sampah menjadi magot dnegan nilai jual tinggi.
ANOM BAGASKORO, Kulon Progo
Bagi sebagian orang, sampah organik seperti sisa nasi ataupun sayur cukup dibuang ke depo sampah.
Tak jarang, sampah didiamkan berminggu-minggu hingga menimbulkan bau.
Namun, di tangan pemuda-pemudi Kalurahan Kaliagung sampah organik disulap menjadi bahan yang memeilik nilai tinggi.
Proses menyulap sampah menjadi barnag bernilai tinggi memerlukan tahapan yang tak mudah.
Setiap harinya, anggota Karang Taruna Tunas Harapan Kaliagung berjibaku dengan sampah dari warga. T
ak kenal dengan bau menyengat dari sampah organik, setiap harinya mereka berhasil menyerap ratusan kilogram sampah organik dari masyarakat.
"Setiap harinya 350 kilogram sampah organik kami tampung, berasal dari rumah tangga dan restoran," ucap Anggota Karangtaruna Kaliagung Dimas Febrian, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (12/10).
Dimas menjelaskan, di lahan seluas berukuran 30×20 meter di Padukuhan Banyunganti Kidul, Kalurahan Kaliagung inilah, karang taruna berkegiatan membudidayakan magot.
Di tempat ini juga sampah organik timbulan rumah tangga diolah menjadi pakan magot.
Setiap harinya, warga kalurahan melakukan penyetoran satu embar besar sampah organik.
Jika ditotal, setiap harinya terdapat 350 kilogram sampah organik yang disetorkan.
Dulunya pengumpulan sampah tak mencapai ratusan kilogram. Lantaran, budidaya magot di Kalurahan Kaliagung belum digarap dengan jelas.
Pakan magot awalnya hanya berasal dari timbulan sampah sisa dari kegiatan hajatan yang kerap digelar masyarakat.
"Dulunya hanya mengolah sisa makanan hajatan yang biasanya ditumpuk di rumpun bambu," ujarnya.
Program yang berlangsung hampir setahun di tahun 2024 itu ternyata menghasilkan dampak positif.
Lantaran, sampah organik dari hajatan dapat dimanfaatkan sebaik mungkin. Hasilnya berupa magot yang dapat dijual hingga menjadi pakan ternak.
Berkat pengalaman dari program ini, awal tahun 2025 Karangtaruna memfokuskan diri dalam budidaya magot.
Mendapat dukungan dari Pemkal Kaliagung, warga diajak mengumpulkan sampah organik.
Untuk menarik warga agar mengumpulkan sampah, karangtaruna menyediakan ember bekas cat berukuran 20 kilogram.
Setiap warga yang menyetorkan satu ember sampah organik, maka warga mendapatkan satu telur.
Cara tersebut mampu menarik warga untuk memilah sampah dan menyetorkan ke karang taruna.
Alhasil, budidaya magot oleh karang taruna berjalan dengan baik berkat konsistensi setoran sampah organik. Berkat ini setiap dua hari sekali, panen magot berhasil dilakukan.
"Setiap dua hari sekali panen magot, 20 kilogram magot sekali panen dan beberapa produk lainnya," ujarnya.
Magot tersebut digunakan sebagai pakan ayam petelur yang juga dikelola karang taruna.
Berkat itu, masalah telur untuk setiap setoran berhasil dicukupi. Sedangkan, sisa telur magot juga diperjualbelikan.
Tak tanggung-tanggung, setiap bulannya 300 kilogram magot berhasil diperjualbelikan.
Konsumennya merupakan pedagang pakan ternak, pemancing, hingga penghobi ikan. Kebanyakan dari konsumen berasal dari wilayah luar Kulon Progo.
Per kilogramnya harga magot dibanderol Rp 10 ribu. Menghasilkan keuntungan bersih satu jutaan rupiah untuk kas karangtaruna.
Selain produk magot, karangtaruna juga mengolah limbah kotoran magot menjadi produk pupuk kasgot.
Pupuk ini turut diperjualbelikan sebagai pendamping tanaman holtikultura. Melalui aktivitas Karang Taruna ini, sampah bukan hanya menjadi barang yang dibuang.
Namun memberikan keuntungan dan memberdayakan masyarakat sekitar. (gas)
Editor : Bahana.