Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Rosela, Jahe, dan Harapan yang Tumbuh di Tanah Purwosari, Girimulyo, Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Minggu, 12 Oktober 2025 | 10:30 WIB

 

 

Mahasiswa pendamping melakukan panen rosela.
Mahasiswa pendamping melakukan panen rosela.

 

 

Masyarakat perkotaan sering menyebutnya dengan tanaman obat keluarga (toga), tapi di Kalurahan Purwosari, Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo disebut empon-empon. Potensi tersebut yang kini jadi andalan pemerintah kalurahan.

Program Konservasi Toga ini berawal dari kegiatan program penguatan kapasitas organisasi kemahasiswaan (PPK Ormawa) Universitas Ahmad Dahlan. Mendapat dana hibah dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) kerjasama antara kalurahan dan akademisi pun terjadi.

Ketua Pelaksana PPK Ormawa Muhammad Rifqi Rahadi menyampaikan, awal munculnya ide kerjasama membangun konservasi toga. Sebelumnya, mahasiswa PPK Ormawa telah melakukan penelitian di Kalurahan Purwosari.  "Kami menemukan adanya potensi toga, kalau warga lokal menyebutnya empon-empon," ucap Rifqi, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (10/10).

Rifqi menjelaskan, empon-empon banyak ditemui di Kalurahan Purwosari. Namun, tanaman ini justru kurang dilirik hingga ditinggalkan masyarakat. Hal inilah yang menggugah akademisi melakukan kajian potensi dan pemanfaatan potensi. Dengan dukungan pemerintah kalurahan, kerjasama itupun terjadi.

Mahasiswa melakukan pemetaan potensi toga dis etiap padukuhan se-kalurahan. Dari sinilah diketahui 16 tanaman obat keluarga yang tersebar di kalurahan, mulai dari jahe, brotowali, hingga rosela. Sayangnya, keberadaan mereka hampir tak dibudidayakan membuat produksinya kurang menguntungkan.

Faktor inilah yang mendorong adanya konservasi toga. Berbekal TKD yang dipinjamkan kalurahan, lahan seluas 1.400 meter persegi dijadikan tempat penanaman toga. Selama dua bulan terakhir 16 macam toga dapat ditanam dan dipanen. "Seperti ini, ada rosela hingga sereh, kami melakukan pendampingan untuk mengolah tanaman ini," ungkapnya.

Tak hanya itu, pendampingan pengolahan toga juga dilakukan. Lantaran, pengolahan menjadi kunci untuk memanfaatkan toga. Masyarakat mendapatkan bantuan hingga pelatihan dalam mengolah toga menjadi beragam produk. Di antaranya, teh rosela, sirup jahe, hingga beragam produk lainnya.

Keberadaan konservasi toga diharapkan todak hanya melestarikan tanaman tersebut. Namun, juga untuk meningkatkan penghasilan masyarakat. Lantaran, masyarakat mulai banyak memanfaatkan pekarangan untuk menanam toga dan mengolahnya. (gas/pra)

Editor : Heru Pratomo
#toga #Kulon Progo #Brotowali #kalurahan #tkd #Universitas Ahmad Dahlan #empon empon #jahe #Kemenristekdikti #Purwosari #rosela #Tanaman Obat Keluaraga #ppk