KULON PROGO – Punya wilayah lepas pantai dan tempat pelelangan ikan tak menggugah minat warga Kulon Progo mengonsumsi ikan. Bahkan rerata konsumsi ikan di Bumi Binangun masih di bawah rerata DIJ.
Data Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo, kabupaten paling barat DIJ itu tercatat sebagai kabupaten terendah konsumsi ikan di DIJ. Data 2024 menunjukkan konsumsi ikan per kapita mencapai 31,44 kilogram per tahun. Angka ini lebih rendah dibanding rerata konsumsi ikan di DIJ yang mencapai 35 kilogram per tahun.
“Sosialisasi gemar makan ikan diharapkan mampu menaikkan konsumsi ikan di masyarakat,” kata Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil DKP Kulon Progo Wakhid Purwosubiyantoro, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (10/10).
Karena itu Pemkab Kulon Progo kembali meluncurkan program untuk menekan angka stunting. Program bernama Gerakan Makan Ikan Untuk Atasi Stunting (Gemati) itu juga menjadi cara untuk menekan kasus stunting. “Masalah stunting juga dapat diatasi dengan budaya gemar makan ikan," ucap Wakhid.
Wakhid menambahkan, masalah stunting masih menjadi fokus pemkab. Di 2025 ini, pemkab juga menetapkan 10 kalurahan lokus stunting. Penetapan ini bertujuan untuk mengintervensi penurunan stunting secara lebih cepat.
Untuk mendukung intervensi ini, DKP Kulon Progo menyiapkan program gemar makan ikan. Lantaran, ikan memiliki nilai gizi yang dapat mencegah stunting. Baik sejak kehamilan hingga kelahiran dan pertumbuhan bayi. Jenis ikan yang dapat mencegah stunting dapat ditemui pada ikan air tawar ataupun tangkapan laut. Seperti, lele, nila, hingga kakap.
Gerakan makan ikan ini ditandai dengan diadakannya bazar UMKM binaan DKP Kulon Progo. Bazar memiliki fungsi mengenalkan aneka olahan ikan yang dapat dihidangkan di rumah tangga. Sedangkan, penonton bazar terbuka untuk umum khususnya ibu-ibu.
Target pengunjung sengaja menghadirkan ibu-ibu. Lantaran, ibu berperan sebagai aplikator dalam pencegahan stunting. Ibu rumah tangga diharapkan dapat terinspirasi mengolah ikan untuk mencegah stunting. "Konsumsi ikan di Kulon Progo juga masih rendah, harapannya nanti ikut meningkat," ucapnya.
Editor : Heru Pratomo