KULON PROGO - Pelaksanaan Manunggal Fair 2025 di Kulon Progo menjadi sorotan.
Kegiatan yang digagas Pemerintah Kabupaten Kulon Progo itu dinilai kurang adil terhadap usaha mikro kecil menengah (UMKM) setempat.
Pasalnya ada ketimpangan terhadap sewa stand atau lapak pameran dalam acara tersebut.
Sebab, harga yang dikenakan dalam pameran tersebut tak relavan.
Ada ketimpangan antara stand UMKM dengan stand organisasi perangat daerah (OPD).
Yang mana dalam sorotan warganet stand UMKM dibanderol paling murah Rp 3 juta. Sedangkan stand OPD tidak berbayar.
Padahal konsep festival salah satunya untuk mengangkat UMKM.
"Stand UMKM sik tidak mencerminkan support UMKM, sehat-sehat warga Kulon Progo," komentar warganet di TikTok Jogja Undercover.
Warganet lainnya juga banyak yang menimpali bahwa stand tersebut terlalu mahal dan membandingkan buka lapak di pinggir jalan.
"Dulu aku semangat pengen daftar tapi setelah ngecek harga sewa lapak paling murah Rp 3 juta mending cari lapak pinggir jalan, bisa untuk (menyewa, Red) setengah tahun," tulis warganet lain di TikTok yang sama.
Baca Juga: SMK-SMTI Yogyakarta Jalani Penilaian Perdana TVET 4.0, Siapkan Lulusan Siap Kerja di Industri
Pantauan Radar Jogja dilapangan, ketimpangan tersebut juga banyak dikeluhkan warga.
Jika UMKM harus membayar dengan nilai tersebut dalam waktu yang cenderung pendek maka memberatkan.
Di lain sisi ada kepesimisan, dengan besaran biaya sewa dalam acara tersebut, belum pasti dan dijamin untung.
Harga yang dianggap terlalu mahal menjadi masalah awalnya.
Menanggapi hal itu, Sekretaris Daerah Kulon Progo Triyono tak menampik perihal tersebut.
Dia pun membenarkan bahwa selama ini pemerintah punya aturan bahwa stand OPD dalam Manunggal Fair tidak dipungut biaya.
Sama halnya dari tahun-tahun sebelumnya.
Bukan tanpa alasan.
"Untuk OPD memang tidak membayar stand, karena fokus ke penyampaian informasi program ke masyarakat," ucap Triyono, Jumat (19/9/2025).
Artinya stand yang digunakan masuk dalam program sosialisasi.
OPD bertugas menyebarkan informasi program Pemkab Kulon Progo sesuai bidangnya.
Hal ini diklaim bermanfaat untuk masyarakat.
Utamanya, mengenalkan masyarakat dengan program pemerintah.
Di samping itu, OPD dianggap sebagai lembaga non profit.
Manunggal Fair yang menjadi pusat keramaian, berpotensi menjadi pusat perekonomian baru.
Dalam hal ini, OPD secara garis besar tak mencari laba dan keuntunga materil.
"Stand OPD tidak ada nilai bisnisnya, berbeda dengan swasta yang mencari keuntungan," ungkapnya.
Perihal harga stand Manunggal Fair 2025 yang relatif mahal, Pemkab menegaskan tak mempermasalhkan temuan itu.
Lantaran, harga sewa stand sebenarnya telah diukur sesuai dengan kemampuan dan potensi perkonomian dari Manunggal Fair.
Pemkab mengklaim 80 persen stand komersial telah terjual, menjadi alasan harga sewa tak perlu penyesuaian.
Hal ini menunjukkan, setiap instansi ataupun usaha yang menyewa stand telah menakar untung rugi.
"Mahal tidaknya itu relatif, yang jelas penyewa sudah menakar," ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Perumda Aneka Usaha Muhammad Nastain menjelaskan, pihaknya sebagai pelaksana Manunggal Fair.
Kegiatan ini akan berlangsung mulai 26 September hingga 4 Oktober 2025. Manunggal fair diklaim sebagai pesta rakyat, dengan target 100.00 pengunjung.
"Kami menyediakan 197 tenat atau stand dengan beragam fasilitasnya," ungkapnya.
Nastain menjelaskan, stand dibandrol sesuai fasilitas dan ukurannya. Mulai dari harga Rp 3 juta hingga Rp 14 juta.
Hingga kini hampir semua stand ludes tersewa oleh swasta.
Terutama stand dengan harga Rp 3 juta. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva