Menjadi ASN merupakan impian bagi honorer yang telah mengabdi bertahun-tahun. Namun tidak untuk Neti Ratnaningsih, 39. Perempuan asal Padukuhan Turus, Kalurahan Tanjungharjo, Kapanewon Nanggulan ini, rela melepas status pengangkatan ASN demi berwirausaha.
Bermodal mengembangkan usaha turun temurun, kini Neti sukses berbisnis kerajinan bambu di pasar ekspor.
ANOM BAGASKORO, Kulon Progo
Bambu terkenal sebagai tanaman serba bisa, bisa diolah menjadi kerajinan hingga menjadi olahan makanan.
Namun, untuk meningkatkan harga jualnya, kerajinan menjadi salah satu produk unggulan.
Variasi produk ini terlihat di Galeri Produk Jagad Bamboo Craft, di Kapanewon Nanggulan.
Sosok perempuan bernama Nita ada dibalik Galeri Produk itu. Kisahnya bermula pada tahun 2019 silam, Nita memutuskan untuk berhenti dari pekerjaan sebagai honorer di Pemkab Kulon Progo.
Saat itu, dirinya nyaris diangkat menjadi ASN. Akan tetapi pilihannya untuk resign justru membawa kemujuran.
"Dulu saya kerja ikut orang harus nunggu sebulan untuk mendapat gaji, padahal ada potensi usaha dari orangtua," ucap Nita, saat ditemui Radar Jogja, Minggu (14/9).
Nita menjelaskan, keluarganya memiliki usaha turun temurun mengolah bambu. Produk bambu berupa wakul nasi menjadi produk utama olahan keluarganya.
Akan tetapi, usahanya tak berkembang dan hanya menyasar pasar lokal. Kondisi itu, membuat hati Nita tergerak.
Potensi besar dari kerajinan bambu dapat dideteksinya. Berbekal pengalaman manajerial di pemerintahan dan antusias berkreasi, usaha kerajinan dikembangkan dengan serius.
Media sosial menjadi inspirasi dalam mengembangkan usaha. Banyak model yang diadaptasi dari video kerajinan.
Selain mengembangkan, model kerajinan dari video medsos, Nita tak pernah menolak untuk berkreasi. Saat terdapat konsumen meminta bentuk kerajinan bambu tak sesuai pasaran, Nita tak pernah menolak. Seperti di tahun 2020, konsumen meminta produk hiasan lampu seperti vas bunga.
"Kalau masih realistis pasti bisa dibuat, maka setiap ada permintaan pasti dikonsultasikan ke pengrajin," ujarnya.
Berkat inovasi dan ketelitian mengenal ceruk pasar, usaha kerajinan bambu berhasil berkembang. Mampu memperluas pasar lokal dengan brand Jagad Bamboo, usahanya mulai dikenal pasar Eropa dan Amerika. Banyak turis mancanegara berkunjung ke rumah produksi.
Melihat banyaknya kunjungan, Nita membuat galeri untuk memperlihatkan produk bambu. Gebrakan itu, memberikan dampak baik pada pengenalan produk. Kerajinan bambu dapat dilirik pasar mancanegara, dengan ekspor ke eropa.
"Sekarang ada pasar Eropa, Asia Timur, dan Amerika, Mulai dari Abu Dhabi hingga Belanda," ungkapnya.
Selama lima tahun melakukan ekspor, terdapat produk unggulan paling banyak dicari pasar internasional.
Di antaranya, kap lampu, wakul, keranjang, hingga wadah anyaman bambu. Kebanyakan dari produk kerap ditemui di hotel-hotel di luar negeri.
Hingga kini terdapat 350 variasi produk yang terjual ke pasar internasional.
Berkat keuletan mengembangkan usaha, kini usahanya mampu meraup keuntungan besar. Dalam sebulan, meraih puluhan juta laba untuknya cukup mudah. (gas)
Editor : Bahana.