KULON PROGO - Usai Afganistan dihantam gempa dahsyat, Pejabat Afghanistan berkunjung ke Indonesia, Rabu (3/9/2025) sore.
Mereka mengunjungi Kabupaten Kulon Progo untuk belajar penanganan bencana alam dan pendidikan bencana.
Direktur Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pangarso Suryoutomo menyampaikan, kunjungan tersebut, dalam rangka berbagi pengetahuan.
"DIY termasuk Kulon Progo memiliki pengalaman menangani bencana," ucap Pangarso, ditemui Radar Jogja usai mendampingi rombongan dari Kalurahan Karangwuni ke Sogan, Rabu (3/9/2025) sore.
DIY sendiri pernah diguncang gempa dahsyat Magnitudo 5,9 skala ritcher berpusat di Kabupaten Bantul.
Gempa ini mempora-porandakan bangunan hingga sedikitnya ribuan nyawa melayang.
Dan DIY membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bangkit dari situasi tersebut.
Demikian Afganistan. Pada Minggu 31 Agustus 2025 lalu negara ini diguncang gempa dahsyart berkekuatan 6 skala ritcher.
Hingga kini, korban yang ditemukan terus bertambah. Hingga kini, korbanya sudah tembus ribuan.
Melansir dari laman aljazeera.com, sebanyak 1.400 orang meninggal dunia akibat gempa yang berpusat di perbatasan Pakisatan tepatnya Afganistan Timur pada Minggu malam pukul 23.47 waktu setempat.
Gempa dahsyat di Afganistan itu meluluhlantakkan negeri kawasan Timur Tengah itu.
Korban jiwa yang banyak membuat pemerintah di sana berbenah.
Pejabat Afganistan tersebut menyambangi Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates untuk belajar terkait SOP jika terjadi bencana gempa.
Juga terkait antisipasi gempa melalui early warning system (EWS) yang tersambung langsung sistem sirine komunikasi masyarakat.
Sistem ini memiliki fungsi peringatan terhadpa bencana tsunami.
Kemudian kunjungan berlanjut di Balai Kalurahan Sogan, Kapanewon Wates.
Di balai itu, rombongan memperhatikan SOP pasca kejadian bencana.
Balai Kalurahan Sogan menjadi titik kumpul evakuasi, untuk menangani korban bencana.
Rombongan memperhatikan setiap rambu penanganan bencana hingga shelter pengungsi.
"Selain memiliki pengalaman, Kalurahan Karangwuni memiliki alat lengkap mitigasi bencana," ujarnya.
Pemilihan Kulon Progo sebagai lokasi kunjungan bukan tanpa sebab.
Pengalaman dan kesiapan alat menjadi hal utama.
Bumi Binangun juga telah menerima manfaat dari Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project (IDRIP) dari BNPB.
Bantuan IDRIP dapat terlihat dengan keberadan infrastruktur mitigasi bencana.
Deputy of National Enviromental Protection Agency (NEPA) Afghanistan Zainul Abedin Abid dalam kunjungannya merasa berkesan dengan penanggulangan bencana di Kulon Progo.
Melalui penerjemah, dirinya tertarik dengan peningkatan kapasitas masyarakat dalam kesiapsiagaan bencana.
"Bencana isu global yang perlu komitmen, kami tertarik dengan peningkatan kapasitas masyarakat," ujarnya.
Zainul menyampaikan, keberadaan peningkatan kapasitas masyarakat masih jarang ditemui di negerinya.
Tukar menukar pemahaman yang dilakukan di Kulon Progo menjadi bekal penanganan bencana di Afghanistan.
Sementara itu, Komandan TRC BPBD Kulon Progo Sunardi mengatakan rombongan pejabat dari Afghanistan juga belajar terkait pola peningkatan kapasitas masyarakat.
Lantaran, selama mendampingi dan menjelaskan penanggulangan bencana terhadap rombongan, pertanyaan justru menanyakan perihal kesiapsiagaan masyarakat.
"Yang ditanyakan kebanyakan justru terkait pendidikan kesiapsiagaan bencana," ujarnya.
Menurutnya, masyarakat Kulon Progo memiliki pengetahuan mendalam terkait penangan bencana khususnya gempa.
Hal itu, masih jarang ditemui di wilayah Afghanistan.
Padahal peningkatan kapasitas masyarakat menjadi hal dasar dalam penanganan bencana.
Selain itu, peningkatan kapasitas meluas hingga tingkat sekolah dan masyarakat.
Diwujudkan melalui desa tangguh bencana (Destana) masyarakat Kulon Progo diklaim siap jika teejadi bencana. (gas/mel)
Editor : Meitika Candra Lantiva