Pemprov DIJ Bohong, Warga Terdampak JJLS Karangwuni Tagih Janji Kepastian Dengan Banner Protes
KULON PROGO - Warga terdampak Pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates geram.
Mereka memasang spanduk atau baner protes, menagih janji Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY atas pembayaran ganti untuk bidang tanah dan rumah terdampak.
Pemprov dianggap ingkar dengan warga, karena tak segera memberikan kepastian, ganti untung yang dijanjikan.
Dari pantauan Radar Jogja, 1 September ini, sejak pukul 12.00 WIB, belasan warga telah berkumpul di timur Balai Kalurahan Karangwuni.
Mereka bahu-membahu memasang banner, menggunakan tali dan bambu untuk memasang baner yang dikaitkan dengan pohon di JJLS sepanjang 1 Kilometer (Km).
"Totalnya ada 20 banner dipasang bertahap, hari ini baru sekitar sembilan banner," ucap Eko, saat ditemui awak media usai pemasangan banner, Senin (1/9/2025).
Eko menjelaskan, aksi merupakan tindak lanjut atas hasil audiensi berjenjang yang dilakukan beberapa waktu lalu.
Di pertengahan Juni lalu, warga terdampak JJLS telah melakukan audiensi ke Pemkab Kulon Progo.
Audiensi lantas berlanjut di awal Juli lalu, berjenjang hingga ke Pemprov DIY.
Warga yang berupaya melakukan audiensi secara berjenjang berharap mendapat keadilan.
Baca Juga: Di Tengah Aksi Jogja Memanggil, Massa Turut Buka Lapak Baca Buku Gratis
Lantaran, tuntutan mereka adalah pemerintah memberikan kepastian terkait ganti untung JJLS di wilayah Karangwuni.
Mengingat sudah enam tahun berjalan, kepastian ganti untung tak ada kabar.
"Audiensi dengan Bu Anna dan Bu Made menjanjikan ada kepastian JJLS di Agustus, tetapi sampai sekarang tidak ada," ucapnya.
Saat audiensi dengan Pemprov DIY, warga mendapat angin segar.
Pasalnya, pemprov menjanjikan kepastian kelanjutan JJLS akan segera dikeluarkan.
Namun, hingga awal September kepastian itu tak kunjung didengar.
Hal itulah yang membuat masyarakat merasa dibohongi dan disepelekan.
Selama ini, warga telah bersabar dengan janji kepastian selama enam tahun.
Rasa kecewa membuat warga kembali memasang banner berisi luapan hati.
Mulai dari "Proyek JJLS Bohongi Rakyat" hingga "Kami Tidak Butuh Alasan Pusat dan IPL".
Rasa kecewa juga dirasakan warga terdampak lain, Mujiran.
Kekesalan dan kekuhannya diluapkan secara blak-blakan ke awak media.
Lantaran, selama ini warga Karangwuni yelah bersabar cukup banyak.
"Kecewa campur aduk, kami juga siap menolak," ucapnya.
Mujiran menyampaikan, enam tahun telah dilalui menunggu kepastian, setelah dirinya menerima slip ganti untung.
Namun, haknya tak segera diterima. Ketika bersabar dan menemupuh jalan damai dilakukan, masyarakat justru menemui jalan buntu.
Bahkan ketika mengadu ke Pemprov DIY pihaknya merasa dibohongi dengan janji palsu.
Akibatnya, muncul opini sebagian masyarakat yang menolak pembangun JJLS. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva