KULON PROGO - Bukan hanya dampak cuaca buruk yang membuat Jembatan Sesek Temben di Kalurahan Ngentakrejo, Lendah roboh. Struktur bangunan jembatan tak kuat menahan luapan air sungai yang bercampur dengan sampah.
Pengelola Jembatan Temben Sumarno menyampaikan, peristiwa robohnya akses alternatif warga itu terjadi, Selasa (19/8) sekitar pukul 17.30. Hujan deras sempat melanda wilayah Kapanewon Lendah sejak siang hari.
"Hujan intensitas sedang sejak siang hari, debit air Sungai Progo mengalami kenaikan," ucap Sumarno, saat dihubungi Radar Jogja, Rabu (20/8).
Baca Juga: Dampak Hujan Deras dan Angin Kencang di Sleman, Pohon Timpa Ruang Kelas SMP
Hujan selama beberapa jam membuat debit air sungai meningkat. Di Jembatan Sesek, kenaikan air sungai mencapai dua meter. Awalnya, luapan tak mempengaruhi konstruksi jembatan. Operasional tetap berlangsung hingga pujul 17.00.
Akan tetapi, sekitar pukul 17.15 luapan air membawa sampah dari hulu. Sampah berisi ranting, dan batang pohon terbawa hingga menghantam bagian dasar jembatan yang terbuat dari bambu. Sampah kayu itu terus menumpuk di bagian bawah jembatan. "Disusul pohon kelapa yang ikut terbawa aliran air," ucapnya.
Banyaknya material sampah kayu yang menumpuk membuat konstruksi bambu tak kuat menahan. Hanya dalam hitungan detik, Jembatan Sesek roboh, dengan diawali bagian tengahnya yang mengalami penurunan. Material jembatan lantas tenggelam, dan sebagian terbawa arus sungai.
Baca Juga: HUT Ke-369 Kabupaten Kebumen Dirayakan dengan Kembul Bujana 4.000 Porsi Nasi Penggel
Untungnya, petugas sempat menutup operasional jembatan. Pasalnya, banyak masyarakat yang sedang mengantri untuk melewati jembatan. Berkat itu, tak ada korban jiwa atas robohnya jembatan.
Sebenarnya kejadian meluapnya Sungai Progo di Jembatan Sesek bukan kali pertama. Namun, peristiwa robohnya jembatan terbilang jarang terjadi. Selama meluap di musim kemarau, jembatan tetap kuat menampung pengguna.
Bahkan saat hujan ataupun aliran sungai deras. Robohnya jembatan diduga akibat terdorong limpahan sampah kayu yang terbawa aliran sungai.
"Kami masih menunggu cuaca kondusif, tidak mungkin sehari langsung dibangun lagi," ucapnya.
Baca Juga: PSS Sleman Dikabarkan Masuk Grup Neraka, Ini Pinta Riko Simanjuntak untuk Para Suporter
Sumarno mengungkapkan, belum akan melakukan perbaikan pada jembatan. Lantaran, kondisi debit air Sungai Progo belum surut hingga pagi tadi. Pihaknya juga akan memantau cuaca ke depan. Mengingat pembuatan konstruksi bambu harus dilakukan saat air surut.
Kejadian itu, membuat pengelola menanggung kerugian sekitar Rp 15 juta. Pihaknya tetap akan melakukan perbaikan. Lantaran, masyarakat meminta jembatan tetap beroperasional. Mengingat tak ada jalan cepat untuk menyebrangi Sungai Progo. Masyarakat perlu memutar sejauh empat kilometer ke arah utara dan selatan.
Editor : Heru Pratomo