KULON PROGO - Program satu kalurahan satu lapangan olahraga di Kulon Progo segera terealisasi di tahun 2026.
Hal ini menjadi kajian Pemkab Kulon Progo untuk memberikan sarpras olahraga yang representatif.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menegaskan, program satu kalurahan satu lapangan dipastikan akan berjalan.
Program yang ia besut itu, merupakan bagian dari penerimaan aspirasi masyarakat Kulon Progo.
"Sudah banyak masyarakat yang mengusulkan pembuatan lapangan," ucap Agung, saat ditemui awak media usai melepas atlet NPC di Kalurahan Sendangsari, Selasa (12/8/2025).
Agung menjelaskan, sebelum menjadi bupati dirinya telah mendapat usulan dari setiap kalurahan.
Penjaringan aspirasi berlanjut hingga menjabat menjadi kepala daerah.
Kebanyakan masyarakat mengusulkan pembuatan lapangan bola voli.
Setelah melakukan kajian, pemkab memutuskan program satu kalurahan satu lapangan akan diwujudkan dengan pembangunan lapangan voli.
Akan tetapi, secara fungsional lapangan voli bisa digunakan sebagai sarpras olahraga.
"Akan mulai pembangunan secara bertahap dari satu kalurahan ke kalurahan lain di tahun 2026," ujarnya.
Realisasi pembangunan akan segera terlihat di tahun depan.
Pembangunan akan ditanggung Pemkab Kulon Progo menggunakan beragam skema penganggaran.
Pihaknya masih melakukan pengkajian nilai yang dibutuhkan dalam membuat satu lapangan voli.
Pembangunan lapangan akan dilakukan di setiap kalurahan secara bertahap.
Menuntaskan pembangunan satu lapangan di satu kalurahan menjadi skema pekerjaan.
Tentu, kalurahan yang pertama kali mendapat pembangunan harus dinyatakan siap dari segi lokasi lapangan.
"Kalurahan nanti tinggal menerima hibah, jadi tidak membebani anggaran kalurahan," ungkapnya.
Agung menegaskan, pembuatan lapangan voli bukan hanya sekadar program yang diusung melainkan berdampak banyak ke masyarakat.
Bagi kaum muda, lapangan voli diharapkan menjadi sarpras yang dapat dimanfaatkan.
Terutama untuk mengurangi dampak negatif dari pergaulan dan gadget.
Selain itu, keberadaan sarpras olaharaga dapat memastikan perputaran ekonomi di tingkat desa.
Lantaran, setiap ada kompetusi olahraga akan menjadi tontontan masyarakat.
UMKM yang berjualan diharapkan dapat bertumbuh dari titik keramaian itu.
Sementara itu, Ketua National Paralympic Comitee (NPC) Kulon Progo Widi Nuryanto mendukung program satu kalurahan satu lapangan.
Lantaran, sebagai organisasi pembibitan atlet, pihaknya selalu terkendala sarpras.
"Daerah utara kesulitan untuk langsung ke kota, jadi kalau ada sarpras disana bisa lebih baik," ungkapnya.
Widi menegaskan, lapangan voli diharapkan bisa terbuka digunakan masyarakat khususnya kaum difabel.
Tentunya sarpras juga harus inklusif, dengan mempertimbangkan kebutuhan kaum difabel.
Seperti menghindari lapangan bertingkat, dengan akses yang tak bisa digunakan pemakai kursi roda.
Jika program itu berhasil, NPC diharapkan mendapat akses.
Lantaran, lapangan voli bisa digunakan untuk latihan cabang olahraga voli kursi roda taupun anggar kursi roda. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva