Pelestarian tradisi dan budaya pun bisa ikut diperlombakan. Seperti yang dilakukan masyarakat Padukuhan Kopat, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Pengasih.
Tak tanggung-tanggung ada belasan perlombaan dengan tema tradisi budaya. -ANOM BAGASKORO, Kulon Progo
Belasan Penjor Pernikahan berjajar di sepanjang Jalan Padukuhan Kopat, Minggu (10/8). Bukan sedang ada hajat, belasan penjor itu merupakan hasil dari lomba pembuatan penjor.
Sebelumnya, ada puluhan masyarakat yang mengikuti lomba merangkai hiasan selamat datang pada acara pernikahan itu.
Mulai dari membersihkan bambu gelondongan, memotong daun kelapa muda atau janur secara presisi, hingga membentuknya menjadi penjor.
Semua hal itu, dilakukan oleh kelompok yang berasal dari perwakilan setiap rukun tetangga. Tentunya, kegiatan merangkai penjor bukanlah hal yang mudah.
Butuh keterampilan, serta pengalaman yang terasah cukup lama.
"Siji, loro, telu, (satu, dua, tiga)," ucap salah satu panitia memberikan aba-aba untuk mendirikan penjor secara bersamaan.
Serentak setelah aba-aba itu, penjor hasil lomba langsung terangkat megah. Semburat keemasan dari janur yang berpadu biru dari langit, membuat riyuh masyarakat yang menonton lomba itu.
Di situlah penilaian hasil lomba dilakukan. Terdapat tiga juri, diantaranya Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko, Pemuda Pelopor Ponang Merdu Gandhang, dan Dimas Diajeng Akbar Bayu Laksono. Setelah menyelesaikan penilaian, penjor lalu di pasang di ruas jalan lingkungan di Padukuhan Kopat.
Dukuh Kopat Dwi Nandanu menjelaskan, warganya berinisiatif menggelar lomba yang unik untuk menyambut hari kemerdekaan. Terdapat dua lomba yang mengangkat unsur tradisi dan budaya.
Di antaranya, lomba membuat penjor pernikahan dan merangkai ketupat.
"Fokus kami mengangkat nilai budaya dan tradisi," ucap Dwi Nandanu, saat ditemui Radar Jogja, Sabtu (9/8).
Dukuh mudah yang akrab disapa Danu itu, menegaskan penjor merupakan bentuk warisan budaya.
Penjor atau hiasan pernikahan yang kerap ditemui di jalan masuk menuju lokasi hajat sudah banyak ditinggalkan.
Padahal penjor merupakan wujud syukur atas karunia Tuhan.
Bentuknya yang menjulang ke atas, dengan lengkungan ke bawah menunjukkan hubungan Tuhan dengan manusia.
Untuk melestarikan warisan budaya itu, pihaknya sengaja membuat lomba itu. Setiap rukun tetangga menyiapkan satu kelompok berisi 10 orang. Selama kurang lebih tiga jam, mereka akan berlomba membuat penjor dengan gagrag Jogja ataupun Solo.
Setiap tim yang bertanding diwajibkan mengikutsertakan 50% anggota muda berumur kurang dari 40 tahun.
Bukan tanpa sebab, warisan budaya juga perlu dikenalkan ke kelompok muda. Tujuannya, agar kawula muda mengetahui dan memahami pembuatan penjor.
"Kami juga mengadakan lomba membuat ketupat, karena sesuai nama padukuhan kami," ucapnya.
Seperti nama padukuhan, Kopat dalam bahasa Indonesia adalah Ketupat. Terdapat juga Lomba Membuat Ketupat. Ada 50 peserta, yang berasal dari warga setempat.
Setiap peserta mendapat waktu lima menit, untuk membuat kulit ketupat sebanyak mungkin. Tentunya, bentuk ketupat juga diseragamkan dengan model ketupat Sito.
Tentu dua lomba itu, menarik antusias warga, baik yang mengikuti atau sekedar melihat.
Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko yang kala itu diminta menjadi juri juga mengapresiasi lomba itu.
Pasalnya, lomba terbilang unik karena mengusung unsur budaya dan tradisi.
"Memperingati Hari Kemerdekaan, sekaligus melestatikan budaya," ungkapnya.
Ambar menjelaskan, pembuatan penjor dan ketupat bisa dikembangkan untuk meningkat perekonomian, sekaligus pelestarian budaya.
Lantaran, penjor dan ketupat memiliki nilai ekonomis tinggi. Biasanya harga penjor dibanderol Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.
Sehingga, selain melestarikan budaya warga juga mendapat keuntungan dari pembuatan penjor. (gas)
Editor : Bahana.