Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Tradisi Unik Ngrapyak Sumur di Padukuhan Sabrang Kulon Progo: Mata Air Berumur Ratusan Tahun Dikuras

Anom Bagaskoro • Jumat, 1 Agustus 2025 | 21:57 WIB
GOTONG ROYONG: Warga Sabrang mengeluarkan air dari sendang yang berumur ratusan tahun. 
GOTONG ROYONG: Warga Sabrang mengeluarkan air dari sendang yang berumur ratusan tahun. 

KULON PROGO - Warga Padukuhan Sabrang, Kalurahan Giripurwo, Kapanewon Girimulyo memiliki tradisi unik berumur ratusan tahun.

Namanya, Ngrapyak Sumur atau tradisi menguras dan membersihkan mata air berumur ratusan tahun. 

Tokoh masyarakat Padukuhan Sabrang Sukarna menjelaskan, tradisi ngrapyak sumur telah berumur ratusan tahun.

Seperti namanya, ngrapyak berarti menguras atau membersihkan.

Sedangkan, penamaan sumur mengacu pada sumber mata air tinggalan nenek moyang yang masih mengalir hingga sekarang.

"Ada empat titik mata air di padukuhan kami. Yaitu, Sumber Sabrang, Pancuran, Sumur Lanang, dan Jetak," ucap Sukarna, saat ditemui Radar Jogja di lokasi pembersihan sumur, Jumat (1/8/2025).

Pensiunan ASN di lingkup Pemprov DIY ini menceritakan, keempat sumur berumur ratusan tahun tersebut sudah ada kira-kira lebih dari seabad, di zaman neneknya.

Dulunya, mata air berbentuk sumur tradisional.

Bagi masyarakat setempat, mata air tersebut bukan hanya warisan leluhur, tetapi berkah tersendiri dan bagian dari kekayaan alam setempat.

"Lebih jauh dari itu, sumur tersebut merupakan bentuk pertolongan Tuhan saat musim kemarau melanda," terangnya.

Lebih lanjut dikatakan, walaupun hanya memiliki kedalaman kurang lebih tiga meter di atas perbukitan, sumur itu tak pernah mengalami kekeringan.

Bahkan saat musim kemarau debit air tak surut, walaupun diambil terus menerus.

Ngrapyak Sumur menjadi tradisi turun temurun.

"Bentuk wujud syukur, dan merawat pemberian alam," ungkapnya.

Ratusan warga padukuhan, akan menyebar di beberapa titik mata air terdekat.

Dari situ, mereka bergotong royong melakukan pembersihan di area sumur.

Daun dan ranting pohon di sekitar sumur akan dibersihkan.

Setelah itu, warga akan melakukan pengurasan pada sumur.

Air yang nampak keruh, akan disedot ke luar sumur hingga habis.

Ketika terlihat dasar dari sumur warga akan menguras endapan tanah yang mengganggu jalannya rembesan mata air.

Dinding batu padas yang memunculkan rembesan air juga akan dibersihkan dengan sikat.

Prosesi itu terbilang memakan waktu lama, setiap sumur membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk pembersihan.

Lantaran, ukuran sumur tergolong lebar dengan ukuran 3 meter kali 2 meter.

Debit air dari dasar yang mengalir cukup kencang juga menyulitkan pembersihan dasar endapan sumur.

"Malamnya, setelah pembersihan akan dilakukan kembul bujana di sekitar area sumur," ujarnya.

Baca Juga: Matangkan Persiapan Timnas Indonesia U17 Jelang Piala Dunia U17 2025, PSSI Agendakan Piala Kemerdekaan untuk Training Camp

Pembersihan sumur akan memperlihatkan hasil setelah satu jam menunggu.

Hampir aeparuh sumur akan mulai terisi kembali.

Dari situ, air jernih akan menggantikan air aebelumnya. Sumur akan kembali penuh saat tradisi kembul bujanan dilakukan di malam hari.

Sementara itu, Dukuh Sabrang Priyana menjelaskan banyak tradisi yang masih dilestarikan masyarakatnya.

Seperti merti dusun, gumbregi, hingga nguras sumur. Masyarakat percaya tradisi yang dilestarikan akan memberikan timbal balik juga.

Pasalnya, tradisi nguras sumur bukan takhayul belaka.

Kebersihan sumur yang dijaga merupakan menjaga kelestarian lingkunga dan mata air.

Pembersihan yang mengangkat endapan tanah dan sedimen memastikan aliran mata air tak tersumbat. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Girimulyo #tradisi unik #Berumur Ratusan Tahun #mata air #Kulon Progo #Ngrapyak Sumur #Mengenal #giripurwo #Padukuhan Sabrang