KULON PROGO - Keracunan masal yang diduga akibat makan bergizi gratis memakan korban.
Dari ratusan siswa yang terindikasi keracunan, satu siswa terpaksa rawat inap.
Sedangkan, empat lainnya mengalami perawatan di fasilitas kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo Sri Budi Utami menyampaikan, pihaknya telah menelusuri sejumlah sekolah yang siswanya terindikasi keracunan.
Terdapat dua sekolah yang mengalami keracunan masal, yaitu SMPN 3 Wates, dan SMP Muhammadiyah 2 Wates.
"Ratusan siswa memang terindikasi mengalami gejala mual, muntah, sakit perut, dan diare," ucap Budi, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Kamis (31/7/2025).
Budi menjelaskan, dari data yang diambil di lapangan kisaran jumlah siswa yang mengalami gejala kercunan mencapai ratusan orang.
Di SMPN 3 Wates terdapat sekitar 290 siswa mengalami gejala keracunan atau 80% dari total keseluruhan siswa.
Sedangkan SMP Muhammadiyah 2 Wates terdapat 26 siswa yang bergejala.
Pihaknya juga menelusuri jejak perawatan siswa.
Terdapat lima siswa yang telah mengunjungi fasilitas kesehatan. Empat diantaranya mengalami gejala ringan.
Satu di antaranya masih dirawat inap di RSUD Wates.
"Diduga karena menyantap MBG, tetapi kami masih penyelidikan," ujarnya.
Budi menyampaikan, hipotesa pihaknya menunjukkan keracunan berasal dari menu makan berguzi gratis (MBG).
Lantaran, kejadian keracunan dirasakan oleh ratusan korban dengan gejala sama. Hal ini diperkuat dengan gejala mual, muntah, sakit perut, dan diare.
Gejala tersebut mengerucut pada keracunan makanan.
Dari situ, pohaknya melakukan pencocokan yang mengarah konsumsi MBG menjadi salah satu penyebab keracunan.
Akan tetapi, pihaknya perlu memastikan dengan uji lab agar memiliki dasar yang cukup.
"Sampel berupa feses, cairan muntahan, dan makanan sudah kami amankan," ujarnya.
Penyelidikan tentu memakan waktu cukup lama.
Pasalnya, sampel perlu diuji di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi (BLKK) DIY.
Dari sampel yang ada bisa ditarik kesimpulan penyebab dari keracunan.
Untuk saat ini, pihaknya belum menetapkan kejadian luar biasa (KLB).
Lantaran, menunggu instruksi kepala daerah. Akan tetapi, dinkes berupaya mengoptimalkan faskes yang ada.
Jika didapati siswa yang mengalami gejala yang sama dengan taraf berat, pihkany menghimbau agar segera melakukan pemeriksaan kesehatan.
Sementara itu, Perwakilan SPPG Dapur Sehati Wates Ariska Fadilah menyampaikan, pihaknya memang menerima laporan tersebut dan telah berkonsultasi dengan dinas terkait.
Akan tetapi, pihaknya belum bisa memastikan penyebab dari keracunan masal itu.
"Sampel makanan sudah diambil, kami menunggu penyelidikan," ujarnya.
Ariska menjelaskan, menu yang dikirim kemarin berupa ayam bacem, aneka sayuran, mie, dan tahu.
Mereka menyuplai 2.700 porsi MBG ke sekitar 20 sekolah di Kapanewon Wates.
Tentunya, pihaknya mengklaim telah menjalankan SOP yang telah ditetapkan BGN.
Bahkan saat diminta sampel makanan terdahulu, pihaknya bisa menyediakan.
Sebab, sampel makanan memang wajib disediakan untuk meninjau kesehatan makanan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva