KULON PROGO - Pemerintah pusat mendorong rakyatnya melakukan aktivasi identitas kependudukan digital (IKD).
IKD merupakan program mengubah data kependudukan fisik menjadi digital yang dapat diakses melalui ponsel.
Namun pelaksanaan program ini belum terealisasi dengan baik di Kulon Progo.
Karena peminatnya masih minim.
Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kulon Progo Aspiyah menyampaikan, aktivasi IKD menemui tantangan besar.
Terutama untuk mencapai target nasional 30% atau 133.000 penduduk yang melakukan aktivasi IKD.
"Ada tantangan besar pada aktivasi IKD, tahun ini belum tentu tercapai targetnya," ucap Aspiyah, Senin (28/7/2025).
Aspiyah menyampaikan, penetapan target 30% aktivasi IKD merupakan program nasional.
Pihaknya diminta menyukseskan program itu, dengan peningkatan pelayanan aktivasi IKD secara langsung.
Namun, aktivasi IKD tahun ini diprediksi tak memenuhi target.
Sebab, aktivasi IKD di Kulon Progo masih menyentuh angka 5,02 % atau 17.443 penduduk, dari total penduduk sekitar 444.520 jiwa pada 2024.
Adapun target 30% dari penduduk 17 tahun ke atas yakni, 133.355 jiwa.
Sedangkan jumlah penduduk Kulon Progo 2024 ber-KTP sebesar 345.000 jiwa.
Baca Juga: Marcus Rashford Percaya Mampu Menunjukkan Kualitasnya Bersama Barcelona Dibawah Asuhan Hansi Flick
Aktivasi IKD di Kulon Progo dilakukan dengan dua cara, yaitu pelayanan langsung di kantor ataupun metode jemput bola.
Rerata pelayanan IKD di kantornya hanya mampu mengaktivasi 400 penduduk per bulannya.
Angka ini tergolong maksimal, mengingat kebanyakan aktivasi dilakukan saat warga sedang mengurus dokumen kependudukan.
Kebanyakan warga sebenarnya datang ke kantor Disdukcapil untuk mengurus data kependudukan seperti KK ataupun akta lahir.
Bukan secara khusus untuk aktivasi IKD.
Sehingga pihaknya hanya bisa menawarkan aktivasi IKD.
Terkadang warga menolak untuk aktivasi dengan alasan prosesnya cukup lama.
Menurutnya, aktivasi IKD cukup 10 menit.
"Terkadang kita harus menawarkan, ada warga yang mau ada yang tidak," ujarnya.
Upaya mencapai target aktivasi juga menggunakan metode jemput bola.
Pada awal 2025, pihaknya melakukan jemput bola pada aktivasi IKD di sektor pemkab.
Dari situ, hampir keseluruhan ASN lingkup pemkab telah melakukan aktivasi.
Selain itu, juga melakukan jemput bola di pabrik ataupun perusahaan dengan pekerja di atas 50 orang.
Hal ini dilakukan untuk mempercepat penyerapan target aktivasi IKD.
Tak sampai situ, jemput bola aktivasi IKD juga dilaksanakan di kalurahan dengan frekuensi seminggu sekali.
Akan tetapi, program jemput bola ini tetap tak bisa mengangkat capaian aktivasi TKD.
Jumlah rerata aktivasi TKD dengan metode jemput bola hanya sekitar 300 orang per minggu.
Akibatnya, hanya ada 1.200 KTP dalam sebulan yang bisa diaktivasi.
"Jadi rerata aktivasi perbulannya hanya sekitar 0,4% sampai 0,5%, jadi setahun prediksi hanya sampai 6%," ungkapnya.
Aspiyah menjelaskan, untuk mencapai target 30% realisasinya hanya mencapai 6% dari prediksinya di tahun ini.
Namun, pihaknya mengupayakan untuk menggenjot capaian aktivasi IKD sebaik mungkin.
Sementara itu, salah satu pendaftar aktivasi IKD di Kalurahan Pengasih Irma Desti mengungkapkan keikutsertaannya.
Menurutnya aktivasi IKD cukup banyak dibutuhkan, terutama untuk KTP digital yang memudahkan proses perubahan data ataupun keperluan administrasi penduduk.
"Awalnya sempata kesusahan mendaftar, terutama foto," ujarnya.
Irma mengungkapkan, saat mengakses foto perekaman wajah dirinya merasa kesulitan.
Karena, harus mengatur wajah agar sesuai dengan bingkai aplikasi.
Waktu yang dibutuhkan sekitar lima menit untuk tahapan perekaman wajah. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva