Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bukan Jamasan Tapi Siraman, 14 Pusaka Peninggalan Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman Dibersihkan

Anom Bagaskoro • Rabu, 23 Juli 2025 | 22:47 WIB
PEMBERSIHAN: Pusaka dari Keraton dibersihkan menggunakan air dan alat pendukung lain. 
PEMBERSIHAN: Pusaka dari Keraton dibersihkan menggunakan air dan alat pendukung lain. 

 

KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo menggelar Siraman Pusaka, Rabu (23/7/2025).

Mirip seperti adat jamasan, siraman merupakan upacara pembersihan belasan pusaka peninggalan Keraton Jogja dan Kadipaten Pakualaman.

Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Eka Pranyata menyampaikan, ada 14 pusaka yang dibersihkan di tahun ini.

Dua pusaka milik pemkab, dan 12 pusaka lain milik kapanewon. Setiap kapanewon memiliki satu pusaka berupa tombak.

"Dua pusaka peninggalan Keraton Ngayogyakarta dan Kadipaten Pakualaman," ucap Eka, saat ditemui awak media usai siraman di Rumah Dinas Bupati Kulon Progo, Rabu (23/7/2025).

Eka menjelaskan, pusaka peninggalan Keraton Jogja bernama Kiai Amiluhur.

Pusaka ini merupakan peninggalan HB VIII.

Sedangkan, Kiai Bantarangin merupakan peninggalan dari Kadipaten Pakualaman, tepatnya pemberian Paku Alam VIII.

Kedua pusaka ini diterima pemkab pada tahun 2000 silam. 

Pemberian pusaka ini, merupakan simbol perlindungan untuk Bumi Binangun.

Lantaran, wilayah Kulon Progo dulunya terbagi dua wilayah milik kasultanan dan kadipaten.

Sekaligus simbol penyatuan dua wilayah besar yang memiliki budaya dan karakteristik masing-masing.

Dalam tradisi Jogja, pembersihan benda pusaka disebut siraman.

Hampir sama dengan jamasan, siraman juga upaya membersihkan noda kotoran yang menempel di bilah pusaka.

Perawatan ini dilakukan untuk menghindari bilah pusaka dari korosi.

"Istilahnya adalah siraman, hampir sama dengan jamasan," ujarnya.

Sebelum dilakukan siraman, terlebih dahulu pusaka diarak dari Bale Agung menuju depan rumah dinas bupati.

Ketika di Bale Agung, dilakukan upacara adat penyerahan. Selanjutnya pusaka diarak dengan melibatkan pasukan bergada mengelilingi Alun-Alun Wates.

Sesampai di lokasi siraman, dimulai dengan upacara adat dan dilanjutkan jamasan.

Satu persatu tombak dikeluarkan dari sabuknya.

Kemudian dibersihkan dengan beberapa cairan, serta disiram dengan beberapa air.

Untuk pusaka yang berasal dari kapanewon, dijamas menggunakan mata air yang berasal dari daerahnya masing-masing.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kulon Progo Triyono menyampaikan, siraman juga merupakan upaya pelestarian budaya.

Lantaran, banyak generasi muda yang tak mengetahui tradiisi siraman. Padahal pada siraman, cermin pembentukan sejarah Kulon Progo dapat dilihat.

"Ini merupakan upaya pelestarian budaya," ungkapnya.

Menurutnya, penyatuan wilayah kadipaten dan kasultanan menjadi Kulon Progo dapat dilihat dari pemberian dua pusaka.

Menyimbolkan kebersamaan dan gotongroyong yang dapat diambil serta diterapkan sekarang. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#dinas kebudayaan #siraman #Pusaka Peninggalan Keraton Jogja #Kadipaten Pakualaman #bale agung #Pemkab Kulon Progo #tombak #jamasan #Kiai Bantarangin #Pusaka