KULON PROGO - Koperasi desa (Kopdes) Merah Putih di 88 desa Kabupaten Kulon Progo telah terbentuk.
Saat ini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo tengah fokus pada pelatihan sumber daya manusia (SDM) dalam membangun manajemen koperasi.
Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menyampaikan, seluruh kalurahan yang telah membentuk koperasi, selanjutnya akan dilakukan pendampingan oleh Pemkab Kulon Progo.
Pendampingan berupa pelatihan manajemen bisnis yang akan dikelola koperasi.
"Kalau pinjaman ke Bank Himbara (himpunan bank milik negara) masih menunggu instruksi pusat, penting saat ini mempersiapkan manajemen bisnis yang sehat," ucap Ambar, saat ditemui Radar Jogja, Kamis (17/7/2025).
Mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, Bank Himbara menjadi salah satu sumber pendanaan Kopdes Merah Putih.
Akan tetapi, mekanisme pembiayaan koperasi dari Bank Himbara masih menunggu instruksi pusat.
Lantaran, beberapa komponen pinjaman seperti plafon, suku bunga, dan tenor masih menunggu aturan tetap.
Saat ini, pemkab justru lebih fokus untuk tak mengejar masalah permodalan melalui Bank Himbara.
Pemkab bekerjasama dengan bank plat merah malah mengadakan pelatihan manajemen bisnis untuk koperasi desa.
Hal ini diklaim justru dibutuhkan oleh koperasi.
"Perkuat dulu manajemennya, makanya diadakan pelatihan," ujarnya.
Daripada fokus mencari modal, Ambar justru mengarahkan memperkuat manajemen bisnis.
Bukan tanpa sebab, sebelum menerima modal baik dari sumber APBKal ataupun Himbara, koperasi harus disiapkan untuk mengolahnya.
Tujuannya, saat menerima modal koperasi tak gagap dan mampu mengembangkan bisnis mereka.
Dalam pelatihan, pengurus koperasi mendapat materi terkait manajemen bisnis, keuangan, dan faktor resiko bisnis.
Untuk memulai sebuah usaha, materi ini sangat dibutuhkan.
Terutama dalam mengelola keuangan bisnis berbadan hukum.
Ketua Koperasi Desa Merah Putih Kulwaru Ari Wibowo menyampaikan, kebutuhan pendampingan dalam menjalankan kopdes.
Pelatihan kali ini, membuka mata dalam pengaturan operasional bisnis dalam koperasi.
"Rencananya kami fokus ke usaha isi ulang air minum dan gerai penjuapan," ujarnya.
Ari menyampaikan, kedua usaha itu dipilih melihat potensi yang ada di desa mereka.
Sejauh ini, Kulwaru tak memiliki gerai yang menjual produk rumah tangga yang lengkap, utamanya LPG.
Selain itu, jarang ditemui juga depot air bersih. Padahal kedua usaha ini sangat dibutuhkan masyarakat.
Pihaknya berharap pemkab terus melakukan pendampingan.
Tak sampai situ, masalah permodalan juga harus dipikirkan.
Lantaran, setiap kalurahan memiliki keterbatasan dalam pendanaan kopdes. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva