Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Warga Kalurahan Hargomulyo, Kokap, Kulon Progo Nekat Membudidayakan Cabai Jawa, Kini Justru Untung Berkali-kali karena Tanaman Obat

Anom Bagaskoro • Senin, 7 Juli 2025 | 04:45 WIB

 

Sukma merawat dan melakukan pemanenan cabai Jawa di ladang miliknya.
Sukma merawat dan melakukan pemanenan cabai Jawa di ladang miliknya.

KULON PROGO - Cabai Jawa atau lombok bagi masyarakat Jawa ternyata bisa dibudidayakan. Tanaman dengan nama ilmiah Piper Retrofractum ini biasanya tumbuh liar. Namun, berbeda bila ditemui di Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Kokap. Cabai Jawa justru dibudidayakan oleh Sukma Rumekar Sakti, 47. 

Di lahan seluas 500 meter persegi di Padukuhan Grindang, Hargomulyo, Kokap berjajar rapi tanaman rambat setinggi dua meter. Dari balik julur-julur tanaman itu, Sukma selalu sibuk menyirami tanaman itu. Tangannya yang ulet tak henti-hentinya memeriksa kondisi setiap tanaman sejak Januari 2022.

 Baca Juga: Sebelum Diterjunkan ke Lokasi KKN, Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Jogja Aksi Bakti Kampus

"Ini cabai Jawa atau puyang, tanaman asli Indonesia serung digunakan untuk bumbu masakan ataupun jamu," ucap Sukma, saat ditemui Radar Jogja di lahan miliknya, Minggu (6/7).

Sukma mengungkapkan, kesehariannya sebagai ibu rumah tangga tak membuat tanggan berhenti bekerja. Lantaran, dirinya memiliki pekerjaan sambilan mengolah lahan untuk budi daya cabai Jawa. Tanaman asli Indonesia yang termasuk bagian dari rempah-rempah ini, telah dibudidayakan oleh dirinya secara otodidak.

 Baca Juga: Puluhan Ribu Peserta Ikut UM UGM, Kampus Pastikan Akses Setara bagi Calon Mahasiswa Difabel

Kisah budi daya berawal pada 2021. Saat itu anaknya mengalami kecelakaan dan mengharuskan perawatan seumur hidup. Sukma yang dulu merupakan pekerja pabrik di Jakarta terpaksa pulang kampung sebelum masa pensiun. Terbiasa untuk bekerja, membuat Sukma kebingungan saat kembali ke kampung. Sebab setelah merawat anaknya, Sukma tak memiliki kesibukan.

Dari situ, perempuan gigih ini lantas mencari cara untuk menyibukkan diri. Teringat dengan masa kecil, yang sering melihat cabai Jawa di pekarangan tetangga. Sukma memutuskan belajar mengenal tanaman untuk mencoba membudidayakan tanaman rambat itu.

 Baca Juga: Persib Bandung 0-2 Port FC, Bojan Hodak: Secara Keseluruhan, Saya Cukup Senang

"Dari pada lahan nganggur tidak terpakai, lebih baik ditanami, sekaligus menambah kesibukan," ungkapnya.

Budi daya tanaman cabai Jawa sengaja dipilih oleh Sukma. Lantaran, cabai jawa memiliki karakteristik mudah perawatan. Sekaligus memiliki umur tanaman yang lama, antara 5-10 tahun. Semakin tua umur tanaman, hasil panennya juga semakin melimpah. Bahkan dengan cuaca panas, tanaman ini tak banyak menyerap air.

 Baca Juga: Terima Aduan Layanan Darurat 110, Polsek Borobudur Gerebek Sekelompok Pemuda Bersenjata Tajam

Selain itu, cabai Jawa merupakan tanaman asli Indonesia. Membuatnya cocok ditanam di manapun. Peminat produk tanaman ini, juga tergolong banyak. Sebab, cabai Jawa kerap digunakan sebagai bumbu masak, terkadang ditemukan juga dalam jamu instan.

 

Di awal merintis, tentu banyak hambatan yang ditemui. Seperti kekurangan air, yang berpengaruh pada dua bulan penanaman bibit hingga tak optimalnya hasil panen. Kegagalan selama setahun menekuni budi daya itu semakin menempa pemahamannya.

Kini, dia memiliki 250 tanaman cabai Jawa yang setiap harinya bisa dipanen dan akan selalu bertambah hasilnya setiap pertambahan umur tanaman.

"Baru berumur satu setengah tahun, satu bulannya sudah 57 kilogram panennya, untuk kering 19 kilogram," ujarnya.

 Baca Juga: Mas-Mas Pelayaran Kini Jadi Tersangka dan Ditahan, Polisi Juga Tetapkan  Dua Orang dalam  Kasus Perusakan

Dari budi daya itu, setiap bulannya Sukma mampu mengantongi Rp 1,1 juta. Jika dilihat dari nilainya mungkin terlihat kecil. Akan tetapi, jika dilihat hasil dengan perbandingan jam kerjanya penghasilan itu tergolong besar. Lantaran, untuk merawat tanaman cabai hanya membutuhkan waktu dua jam sehari.

Selain itu, harga cabai Jawa juga semakin melejit. Di awal budi daya harganya hanya Rp 50 ribu. Namun kini menyentuh Rp 90 ribu. Jika turun, harga cabai terendah di kisaran Rp 60 ribu. (gas)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Sukma Rumekar Sakti #budi daya #Kulon Progo #dibudidayakan #Kalurahan Hargomulyo #cabai jawa #Tanaman Obat #puyang #lombok #jawa #Piper Retrofractum #Kapanewon Kokap