KULON PROGO - Risiko besar dalam melaut, membuat puluhan nelayan Kulon Progo mengikuti kegiatan pelatihan dan sertifikasi.
Pelatihan yang digelar di TPI Karangwuni ini, secara garis besar meningkatkan kemampuan nelayan.
Pendamping Kegiatan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Supiyono menyampaikan, kegiatan pelatihan merupakan upaya meningkatkan kemampuan nelayan.
Khususnya nelayan Pantai Selatan Kulon Progo, yang memiliki resiko kecelakaan cukup besar.
Baca Juga: Gunakan Mobil Berlambang Siap Amunisi di Berbagai Event, Polresta Sleman Amankan Ribuan Botol Miras
"Pelatihan basic safety training (BST) memang dibutuhkan, mengingat karakter ombak dan potensi laka laut yang menimpa nelayan," ucap Supiyono, saat ditemui Radar Jogja, Rabu (18/6/2025).
Pelatihan yang digelar oleh Dinas Kelautan dan Perikanan DIY dengan dukungan Dana Keistimewaan ini, diikuti 30 peserta yang memiliki latar belakang profesi nelayan. Pelatihan berfokus pada keselamatan selama melaut.
Pantauan Radar Jogja di lokasi pelatihan, nelayan cukup banyak antusias dalam mengikuti kegiatan.
Di hari pertama dan kedua, nelayan mendapat wawasan berupa teori keselamatan selama berlayar. Di hari ketiga, Rabu (18/6/2025) nelayan mulai mempraktekan hasil teori yang diterima.
Salah satu yang dipraktekkan adalah, tindakan saat terjadi kebakaran di tengah laut.
Nelayan mempraktekkan teori dengan pendampingan instruktur. Dalam kasus kebakaran, nelayan bisa menggunakan alat pemadam kebakaran (APAR) ataupun kain basah untuk memadamkan api.
Baca Juga: Aria Nugrahadi Resmi Dilantik Jadi Penjabat Sekprov DIY, Bakal Lengser Jika Proses Seleksi Rampung
Selain simulasi atas kejadian kebakaran, nelayan juga mendapat pelatihan keselamatan selama di tengah perairan.
Pelatihan ini, fokus pada penyelamatan diri saat kapal mengalami karam ataupun tenggelam.
Hasil dari pelatihan Basic Safety Training, nelayan akan mendapatkan sertifikat.
Sertifikat BST Fisheries II menunjukkan kemampuan nelayan dalam menghadapi setiap kecelakaan. Sekaligus kemampuan melakukan pencegahan atas kecelakaan kerja.
"Hari ini juga merupakan upaya sertifikasi bagi nelayan," ungkapnya.
Supiyono menyampaikan, sertifikasi memang diperlukan nelayan. Walaupun, nelayan di Kulon Progo cenderung menggunakan mesin dan kapal kecil dengan daya tempuh tak jauh dari pesisir.
Melalui sertifikasi, kecakapan nelayan akan diuji untuk memastikan kemampuan nelayan selama melaut.
Setelah mengikuti tahapan sertifikasi, nelayan akan mendapatkan Sertifikat Kecakapan Nelayan (SKN).
Lebih detil, Instruktur Pelatihan Hendriyansah mengungkapkan, salah satu pelatihan yang paling menarik adalah pelatihan di perairan. Berlokasi di Muara Pantai Glagah, nelayan mengikuti pelatihan renang.
"Yang ditekankan bukan renang paling cepat, tetapi berenang yang aman dan bertahan lama," ungkapnya.
Hendri mengungkapkan, saat kapal tenggelam di tengah perairan, nelayan harus siap dengan kondisi itu.
Baca Juga: Peredaran Rokok Ilegal di Kota Jogja Masih Rawan di Wilayah Perbatasan dan Warung Kelontong
Bukan siapa yang paling cepat, tetapi bagaimana nelayan bisa bertahan mengapung tanpa mengeluarkan tenaga banyak.
Selain teknik berenang, nelayan ditekankan untuk menggunakan peralatan keselamatan jika hendak melaut. Lantaran, safety jacket ataupun pelampung sangat diperlukan.
Setidaknya nelayan tak perlu khawatir tenggelam, sekaligus dapat menghemat tenaga jika kapal tenggelam.
Hal ini cukup penting, mengingat nelayan tidak tahu kapan akan diselamatkan.
Sementara itu, peserta pelatihan Yuli Prasetyawan mengaku berprofesi sebagai nelayan.
Biasanya melaut saat pagi hari, melalui Jalur Pantai Glagah. Keikutsertaannya dalam pelatihan dirasa sangat dibutuhkan. Lantaran, kecelakaan saat kerja bisa berpotensi terjadi sewaktu-waktu.
"Sangat bermanfaat, karena sekarang bisa tahu kalau berenang itu yang penting ketahanan tubuh," ungkapnya.
Yuli mengaku, juga mendapat wawasan terkait pertolongan saat melihat kapal nelayan lain tenggelam.
Sebagai sesama nelayan, tentu hal ini sangat dibutuhkan. Untuk menyelamatkan nelayan tenggelam, perlu menggunakan alat safety agar penolong tak ikut celaka. (gas)
Editor : Winda Atika Ira Puspita