KULON PROGO - Sejumlah nelayan di Kulon Progo mengikuti kegiatan pelatihan keselamatan yang diinisiasi Dinas Kelautan dan Perikanan DIY. Tujuan pelatihan sebagai upaya meningkatkan kemampuan nelayan menghadapi risiko kecelakaan laut. Pelatihan yang diberikan bersifat dasar atau basic safety training (BST).
“Ini memang dibutuhkan, mengingat karakter ombak dan potensi laka laut yang cukup besar dialami,” kata Pendamping Kegiatan Dinas Kelautan dan Perikanan DIY Supiyono di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pantai Karangwuni, Kulon Progo, Rabu (18/6).
Pelatihan yang mendapatkan dukungan dana keistimewaan (danais) diikuti 30 orang nelayan sebagai peserta. Mereka cukup antusias mengikuti acara dari awal hingga akhir.
Pelatihan berlangsung tiga hari sejak Senin (16/6) lalu. Di hari pertama dan kedua, peserta mendapatkan wawasan berupa teori keselamatan selama berlayar.Memasuki hari ketiga kemarin, mulai mempraktikkan di lapangan atas teori yang diterima.
Salah satunya, tindakan saat terjadi kebakaran di tengah laut. Nelayan bisa menggunakan alat pemadam kebakaran (APAR) ataupun kain basah untuk memadamkan api. Selain itu, ada pelatihan keselamatan selama di tengah perairan. Fokusnya saat kapal mengalami karam ataupun ancaman tenggelam.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta akan mendapatkan sertifikat. Sertifikat BST Fisheries II menunjukkan kemampuan nelayan dalam menghadapi setiap kecelakaan. Sekaligus kemampuan melakukan pencegahan atas kecelakaan kerja. "Ini juga sebagai upaya pemberian sertifikasi bagi nelayan," ungkapnya.
Supiyono mengingatkan, sertifikasi diperlukan nelayan. Meski nelayan di Kulon Progo cenderung memakai mesin dan kapal kecil dengan daya tempuh tak jauh dari pesisir, peningkatan kemampuan lewat pelatihan itu tetap penting.
Alasannya, dengan mengikuti pelatihan, kecakapan nelayan akan diuji. Memastikan kemampuan nelayan selama melaut. Setelah mengikuti tahapan sertifikasi, nelayan akan mendapatkan sertifikat kecakapan nelayan (SKN).
Instruktur Pelatihan Hendriyansah menambahkan, pelatihan di muara Pantai Glagah terhitung cukup menarik. Nelayan mengikuti pelatihan renang.
Baca Juga: Warga Minta Dukuh Jimatan Mundur, Selain Kasus Perselingkuhan, Kinerja Dinilai Buruk
"Yang ditekankan bukan renang paling cepat, tapi berenang yang aman dan bertahan lama," ungkapnya.
Saat kapal tenggelam di tengah perairan, nelayan harus siap dengan kondisi tersebut. Bukan siapa yang paling cepat. Namun bagaimana nelayan bisa bertahan mengapung tanpa mengeluarkan tenaga banyak.
Di samping teknik berenang, nelayan ditekankan menggunakan peralatan keselamatan jika hendak melaut. Lantaran, safety jacket ataupun pelampung sangat diperlukan. Nelayan tak perlu khawatir tenggelam, sekaligus dapat menghemat tenaga jika kapal tenggelam.
“Ini cukup penting, mengingat nelayan tidak tahu kapan akan diselamatkan,” ingat Hendri, sapaan akrabnya.
Salah satu peserta, Yuli Prasetyawan mengaku biasanya melaut saat pagi hari. Dia melalui jalur Pantai Glagah.
Menurut dia, pelatihan sangat dibutuhkan. Sebab, kecelakaan saat kerja bisa berpotensi terjadi sewaktu-waktu. "Sangat bermanfaat, karena sekarang bisa tahu kalau berenang itu yang penting ketahanan tubuh," ungkapnya.
Selama pelatihan, Yuli juga mendapatkan pengetahuan pertolongan saat melihat kapal nelayan lain tenggelam. Sebagai sesama nelayan, kemampuan memberikan pertolongan sangat dibutuhkan.
“Untuk menyelamatkan nelayan tenggelam, perlu menggunakan alat yang aman agar penolong tak ikut celaka,” ceritanya. (gas/kus)
Editor : Heru Pratomo