Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Batik Songsong Agung Ngambararum Diluncurkan, Mantan Wabup Kulon Progo Fajar Gegana Sebut Kemungkinan Ada Unsur Politis , Ini Alasannya…

Anom Bagaskoro • Minggu, 15 Juni 2025 | 23:29 WIB

PELUNCURAN: Batik Songsong Agubg Ngambararum ditampilkan ke publik untuk pertama kali.
PELUNCURAN: Batik Songsong Agubg Ngambararum ditampilkan ke publik untuk pertama kali.
KULON PROGO - Munculnya batik Songsong Agung Ngambararum menimbulkan pro kontra.

Bukan karena motifnya, tapi penamaan yang melekat dengan identitas bupati dan wakilnya.

Wakil Bupati Kulon Progo 2019-2022 Fajar Gegana mengungkapkan telah mengetahui peluncuran batik.

Hal itu tak menjadi masalah baginya, walaupun dampak peluncuran bisa saja menyingkirkan geblek renteng dari peredaran.

"Biasa saja, bupati mungkin ingin ada identitas baru bagi Kulon Progo," ucap Fajar, saat dihubungi Radar Jogja, Minggu (15/6).

Fajar mengungkapkan, wajar jika kepala daerah ingin membuat produk baru sebagai ciri khas daerah.

Batik baru diharapkan mampu membuat citra Bumi Binangun semakin naik. Terlepas adanya ponolakan dari masyarakat ataupun tidak.

Secara khusus, Fajar mengomentari motif batik Songsong Agung Ngambararum dan Binangun Kertoraharjo.

Menurutnya, sudah sangat menyimbolkan Kulon Progo dari bentuk gunungannya. Hanya saja filosofi dan maknanya perlu diperjelas.

Utamanya perihal penamaan, Songsong Agung Ngambararum. Lantaran, mau tak mau masyarakat akan menyoroti munculnya nama Agung Setyawan dan Ambar Purwoko.

Agar diterima masyarakat, pemkab perlu sosialisasi filosofi dan maknanya. Tujuannya, agar masyarakat tak salah presepsi.

"Mungkin ada pesan politis yang tersirat, agar ada legacy, makanya masyarakat perlu mendapat sosialisasi," ungkapnya.

Fajar menjelaskan, jika tak ada tendensi khusus dari bati pengganti geblek renteng, maka pemkab wajib memberikan sosialisasi.

Tujuannya, agar masyarakat bisa menerima, dan berakhir bangga dengan batik yang ada.

Pembuatan branding juga perlu kajian mendalam pemkab. Lantaran, geblek renteng dirasa telah melekat dengan Kulon Progo.

Branding bukan berarti menggunakan batik binangun di tempat kerja. Namun, upaya agar masyarakat bisa percaya diri menggunakan batik itu.

"Kami melihat dengan positif, jadi tidak perlu dibesar-besarkan," ungkapnya.

Politisi PDIP ini, berharap penggantian geblek renteng tidak menjadi huru-hara baru. Justru penggantian diharapakan menjadi semangat baru di Bumi Binangun.

Sebelumnya, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menjelaskan, peluncuran batik menambah khasanah batik di Bumi Binangun.

Batik Binangun memiliki dua motif, yaitu motif Songsong Agung Ngambararum dan Binangun Kertoraharjo.

"Kalau soal ada hubungan dengan nama saya rasa tidak, yang jelas ada filosofi dan maknanya," tegasnya.

Ambar menyampaikan, penambahan batik memang diperlukan. Lantaran, gunungan sebenarnya menjadi identitas yang sudah lama ada.

Namun tak menonjol, akibat tergredasi waktu. Gunungan dianggap simbol Sangkan Paraning Dumadi, Eling Asal Eling Baline. Kalimat yang dianggap sebagai simbol, manusia akan kembali ke asalnya.

Perihal Songsong Agung Ngambararum, dirinya tak berkomentar banyak. Ambar justru mengungkapkan, makna dibalik penamaan.

Songsong Agung Ngambararum bermakna, payung atau pemimpin yang melindungi, mengayomi, dan memberikan kemuliaan. (gas)

Editor : Bahana.
#Bupati Kulon Progo Agung Setyawan #Yogyakarta #Kulon Progo #Fajar gegana #Batik #batik Songsong Agung Ngambararum