Alhasil, masyarakat menyerbu Warung Sate Abu Irsyad di Jalan Pengasih-Wates untuk menitipkan daging kurban agar bisa diolah.
Pemilik warung Widyarani Zasmina mengungkapkan, Idul Adha banyak kunjungan dari masyarakat ke warungnya. Bukan untuk memesan sajian olahan daging, namun untuk menitipkan daging kurban.
"Setiap hari rata-rata yang menitipkan hampir 20-30 pelanggan," ucap Rani, saat ditemui Radar Jogja di warungnya, Minggu (8/6).
Rani mengaku, warungnya ramai dikunjungi pelanggan baru yang hendak mengolah daging kurban.
Bahkan sejak hari pertama Idul Adha, sudah banyak pelanggan yang mendatangi warungnya. Kunjungan pelanggan juga semakin banyak pada H+1 hingga H+2, dan diprediksi akan meningkat hingga H+4.
Rata-rata pengunjung yang menitipkan daging untuk diolah memiliki kesibukan. Mulai dari takmir masjid hingga tak memiliki waktu ataupun kepercayaan diri untuk mengolah daging.
Sehingga, mereka lebih memilih mempercayakan pengolah daging ke warungnya.
"Biasanya satu kilogram, ada yang meminta untuk dibuatkan tongseng hingga sate," ungkapnya.
Jasa olah daging kurban dibandrol Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan sajiannya, disesuaikan dengan keinginan pembeli.
Terkadang beberapa pengunjung juga membawa tengkleng, kepala sapi atau kambing untuk ikut diolah, dengan harga yang sama dengan sajian lain.
Sebelum diolah, pengunjung terlebih dahulu akan melakukan penimbangan daging. Tujuannya, untuk menakar bobot dan biaya pengolahan.
Sekaligus, memastikan setiap daging terolah berdasarkan kepemilikannya. Lantaran, pihak warung tak ingin mencampur daging dari pengunjung lain.
"Jasa olah daging kurban sudah ada sejak 2018," ungkapnya.
Di hari biasa, warung miliknya hanya menjual olahan daging seperti sate dang tongseng. Sama sekali tak membuka jasa olahan daging. Namun, karena omset dagangan cenderung turun saat Idul Adha pihaknya perlu memutar otak.
Awalnya, banyak pengunjung yang menceritakan tak bisa mengolah daging kurban saat Idul Adha. Curhatan itu dimanfaatkan sebagai peluang bisnis, dengan menyediakan jasa masak daging kurban.
Sementara itu, pengguna jasa olah daging Hafsah menjelaskan ketertarikannya menggunakan jasa masak daging.
Saat Idul Adha, keluarganya cukup banyak disibukkan dengan kegiatan di luar rumah. Akibatnya, daging kurban tak terpegang untuk dimasak.
"Ada kesibukan, jadi tidak ada waktu untuk masak," ungkapnya.
Hafsah mengungkapkan, dirinya membawa satu kilogram daging untuk dibuat sajian tongseng. Saat menimbang, dirinya bisa meminta beberapa olahan daging.
Dia merasa terbantu dengan jasa masak. Lantaran, selain waktu, rasa dari sajian olahan daging sesuai dengan lidah keluarganya. (gas)
Editor : Bahana.