KULON PROGO - Masyarakat Padukuhan Kopat, Kalurahan Karangsari, Kapanewon Pengasih mempunyai cara unik membungkus daging kurban, memontum Idul Adha.
Bukan menggunakan plastik ataupun bambu, sebagaimana pada umumnya.
Melainkan menggunakan daun kelapa yang dianyam dan dirangkai menarik.
Warga pun bergotongroyong, membuat wadah mulai dari pengambilan daun kelapa hingga merakitnya menjadi pembungkus.
Wadah pembungkus itu disebut sarangan.
Ketua Panitia Kurban Masjid Al-Ikhlas Saleh Riyadi menyampaikan, membagikan daging kurban dengan cara ini, menjadi bagian dari tradisi di padukuhannya.
Sarangan digunakan sebagai wadah makanan, biasanya digunakan saat kendhuri, ataupun acara hajatan.
"Sudah turun temurun. Sekarang sudah jarang ditemui, maka kami lestarikan di momen Idul Adha," ucap Saleh, saat ditemui Radar Jogja di pelataran Masjid Al-Ikhlas, Jumat (6/6/2025).
Saleh menyampaikan, momen Idul Adha digunakan sebagai pengenalan kembali terhadap wadah sarangan.
Lantaran, sarangan memiliki beragam kegunaan yang diklaim cocok sebagai wadah daging kurban.
Sarangan merupakan wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa dan diikat agar bisa menampung makanan.
Sebagai alas dan tutup sarangan, warga biasanya menggunakan daun pohon jati.
Penggunaan bahan organik itu bukan tanpa alasan.
Wilayah Padukuhan Kopat merupakan salah satu lokasi penghasil buah kelapa. Pohon kelapa banyak ditemui.
Sehingga dimanfaatkan warga sekitar.
Sedangkan, daun jati banyak ditemui di kebun-kebun warga.
"Ini baru pertama kali, untuk melestarikan dan zero plastic," ucapnya.
Selain tradisi, pihaknya ingin bebas plastik, mengkampanyekan pengurangan sampah plastik.
Utamanya, saat momen kurban bisanya banyak plastik yang menyumbang timbulan sampah.
Jika dengan cara konvensional, Masjid Al-Ikhlas bisa saja menghabiskan seribu plastik untuk pembagian korban.
Mengingat jumlah penerima daging mencapai 300 KK.
Penggunaan sarangan juga diklaim memberikan cita rasa tersendiri.
Wadah plastik membuat daging cepat apek.
Sedangkan, sarangan memberikan bau wangi pada daging dan lebih awet masa penyimpanannya.
Pembuatan wadah sarangan membutuhkan 20 orang.
H-2 Idul Adha warga bergotongroyong mencari bahan-bahan.
Untuk daun kelapa, perlu dibersihkan dan dijemur agar sedikit layu.
Kemudian, bahan-bahan akan dianyam menyerupai bentuk kantong plastik.
Dukuh Kopat Dwi Nandanu mengapresiasi langkah warganya.
Sebagai pamong desa, dirinya cukup banyak mengetahui perihal surat edaran bupati untuk pengurangan sampah plastik.
Utamanya, saat Idul Adha banyak timbulan sampah plastik bekas daging kurban.
"Tentu sangat mengapresiasi, karena sesuai dengan arahan bupati, sekaligus menjaga lingkungan," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva