Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Duh, dari 337 Produk UMKM di Kulon Progo, Hanya 67 Produk Lolos Kurasi Tomira. Ini Penyebabnya!

Anom Bagaskoro • Senin, 2 Juni 2025 | 20:26 WIB
PENINJAUAN: Wakil Bupati Kulon Progo melihat penjualan produk UMKM di minimarket milik BUMDes. 
PENINJAUAN: Wakil Bupati Kulon Progo melihat penjualan produk UMKM di minimarket milik BUMDes. 

KULON PROGO - Upaya menambah produk UMKM pada waralaba Tomira di Kulon Progo terus dilakukan.

Beberapa waktu lalu, Pemkab Kulon Progo menggelar kurasi produk UMKM secara besar-besaran.

Akan tetapi hanya puluhan produk yang berhasil lolos kurasi.

Kepala Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM Iffah Mufidati menyampaikan, pada April 2025 pihaknya telah menggelar kurasi produk UMKM.

Tujuannya, untuk menambah produk lokal yang dijual di Tomira.

Tentunya kurasi juga didampingi pemilik waralaba, baik Indomart maupun Alfamart.

"Ada 146 UMKM yang mengikut, sedangkan jumlah produk yang ikut kurasi 337 produk," ucap Iffah, saat ditemui Radar Jogja, Senin (2/6/2025).

Iffah menyampaikan, dari ratusan produk yang ikut kurasi hanya 67 produk lolos.

Puluhan produk itu, terbagi di dua perusahan waralaba.

Setelah lolos kurasi, proses selanjutnya adalah inventarisasi produk dari sisi koperasi dan waralaba.

Ratusan produk yang tak lolos kurasi telah mendapat evaluasi.

Penilaian menunjukkan banyak produk tak lolos kurasi bukan karena legalitas produk.

 

Akan tetapi dipengaruhi tiga faktor. Di antaranya, variasi produk, selera pasar, dan kemasan.

Kebanyakan produk UMKM tak memiliki variasi yang banyak.

Contohnya, produk keripik pisang yang diajukan oleh UMKM memiliki banyak kesamaan dengan pelaku usaha lain.

UMKM diminta lebih menambah variasi produk maupun rasa agar bisa lolos.

Selain itu, perusahaan waralaba juga menakar selera pasar.

Jika terdapat produk sejenis, maka potensi pembelian produk tentu akan menurun.

Hal ini juga berkaitan dengan penyesuaian produksi produk lokal.

Kemasan produk lokal seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan lokal.

"Paling banyak diminati justru ukuran kemasan ekonomis daripada jumbo," ungkapnya.

Setelah proses kurasi, produk harus terlebih dahulu mendapatkan barcode dari perusahaan waralaba.

Barcode digunakan sebagai identitas, produk agar masuk dalam database waralaba dan sistem keuangan.

Pihaknya menargetkan, produk UMKM dapat segera mendapat barcode.

Target produk lokal bisa dijual di Tomira pada akhir Juni. Sehingga, diharapkan seluruh UMKM menyiapkan stok produk.

"Ini menambah jenis produk lama, sebelumnya sudah terdaftar 78 produk terdaftar," ucapnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko menegaskan proses pendampingan UMKM terus dilakukan.

Tujuannya, untuk memastikan produk lokal dapat lolos kurasi.

Selain itu, pendampingan juga meningkatkan kualitas produk agar bisa bersaing dengan kondisi pasar. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Dinas Perindustrian Koperasi dan UKM #Bupati Kulon Progo Agung Setyawan #produk #Kulon Progo #Iffah Mufidati #waralaba #Pemkab Kulon Progo #TOMIRA #UMKM #Lolos kurasi