KULON PROGO - Perayaan Idul Adha umat Muslim semakin dekat.
Transaksi jual beli hewan kurban mulai ramai di pasaran dan kalangan peternak.
Oleh karena itu pemantauan kondisi hewan ternak perlu digencarkan, mengingat maraknya temuan antraks di Kabupaten Gunungkidul.
Sebab, peredaran ternak kurban yang masif di masyarakat, berpotensi kasus antraks ditemukan di Kulon Progo.
Kordinator TPID DIY Eling Priswanto menyampaikan, mendekati perayaan Idul Adha pemantauan terhadap hewan kurban di DIY terus digencarkan.
Pemantauan dilakukan di empat kabupaten dan satu kota.
Nah, Kulon Progo menjadi lokus kedua, pemantauan TPID DIY.
"Kalau antraks di Kulon Progo memang tidak berpengaruh pada minat beli masyarakat terhadap hewan ternak kurban. Sempat minat beli sempat menurun di Gunungkidul," ucap Awan kepada Radar Jogja, Selasa (20/5/2025).
Awan menyampaikan, munculnya kasus antraks di Gunungkidul berpengaruh pada minat pembelian masyarakat. `
Terutama menjelang Idul Adha, banyak masyarakat yang membutuhkan hewan kurban.
Pengaruh penurunan minat beli cukup terlihat di Gunungkidul. Namun tak banyak terlihat di kabupaten kota lain.
Untungnya, kasus antraks di Gunungkidul cepat tertangani.
Menjelang Idul Adha kasus antraks menunjukkan penurunan. Sehingga, penurunan minat beli dapat dicegah.
"Berangsur-angsur mulai pulih, dan ini butuh komitmen pedagang ataupun peternak," ujarnya.
Ancaman penyakit pada hewan korban memang perlu diwaspadai.
Lantaran, banyaknya kasus penyakit dapat mempengaruhi fluktuasi pasar.
Dalam kunjungan itu, TPID DIY berfokus pada manajemen keluar masuk hewan ternak, khususnya di pedagang sapi.
Pemantauan di Bumi Binangun menunjukkan, banyak pedagang yang telah mematahui aturan.
Lantaran, mereka telah memasukkan sapi dari luar daerah yang telah mengantongi surat kesehatan. Sehingga, sapi dari luar daerah dipastukan aman.
Sementara itu, Peternak Sapi Sukoreno Olan Suparlan menyampaikan, isu antraks sempat menggoncang harga sapi.
Untungnya, menjelang Idul Adha antraks cenderung mengalami penurunan. Terutama di Kulon Progo, tak ditemukan kasus antraks.
"Harganya dari Rp 20 juta hingga Rp 30 juta, yang paling diminati sapi Bali," ungkapnya.
Olan menaympaikan, peminat sapi kurban di Kulon Progo cenderung memilib sapi dari luar Jawa. Lantaran, lebih terlihat bersih dan memiliki bobot yang seimbang.
Menyikapi peminatan sapi dari luar daerah, pihaknya memastikan sapi telah bersertifikat sehat. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva