Titik longsor itu mengancam rumah warga, akibat longsor mengikis dasar rumah.
Plt Kepala BPBD Kulon Progo Heri Darmawan menyampaikan, dua titik longsor tercatat sebagai dampak hujan deras.
Tiga hari terakhir hujan deras memang melanda wilayah utara Bumi Binangun.
"Ada dua titik longsor, keduanya berdampak ke rumah dan jalan," ucap Heri, saat dikonfirmasi Radar Jogja, Senin (12/5).
Heri menjelaskan, longsor di titik pertama terletak di Padukuhan Ngaliyan tepatnya di samping rumah Suhartanto.
Titik longsor muncul setelah hujan lebat melanda, mengakibatkan bangket rumah setinggi lima meter dengan panjang 18 meter longsor.
Material longsor berupa bangket dan tanah dasar rumah memenuhi ruas jalan kabupaten.
Dampak longsor, rumah Suhartanto menggantung setelah bagian dasarnya hilang terbawa longsor. Untungnya, bagian longsor jauh dari aktivitas rumah sehari-hari.
Longsor yang berdampak ke aktivutas masyarakat juga ditemukan di Padukuhan Ngaliyan 2.
Jalan lingkungan yang menghubungkan Padukuhan Ngaliyan ke pusat pemerintah Kalurahan Ngargosari sempat terputus selama beberapa jam.
"Material menutupi jalan desa, Alhamdulillah sudah terkondisi dengan kerja bakti tadi pagi," ungkapnya.
Heri menjelaskan, kedua titik longsor muncul setelah selama tiga hari terakhir Perbukitan Menoreh dilanda hujan lebat.
Meskipun telah memasuki kemarau, musim hujan masih terasa. Hal inilah yang memicu pergerakan tanah tak stabil.
Longsor biasanya diakibatkan curah hujan dan faktor tanah. Kondisi tanah kering yang pecah akan mempengaruhi longsor, apabila langsung terkena air hujan dengan intensitas tinggi.
Atas kejadian dua titik longsor itu, pihaknya telah melakukan asesment dan distribusi bantuan. (gas)
Editor : Bahana.