Bupati Kulon Progo Agung Setyawan.
KULON PROGO - Maraknya bank plecit atau usaha peminjaman diatas rata-rata bunga membuat Pemkab Kulon Progo bergerak.
Lantaran, korban bank plecit telah banyak ditemui di masyarakat Bumi Binangun, khususnya area pasar.
Bupati Kulon Progo Agung Setyawan menyampaikan, Bagian Hukum Sekretariat Daerah Kulon Progo telah melakukan kajian tersebut.
Bank plecit segera mengalami penataan operasional agar masyarakat ikut terlindungi.
"Salah satunya bank plecit, tetapi lebih utama jenis usaha peminjaman uang yang memiliki bunga diatas rata-rata," ucap Agung, saat ditemui Radar Jogja , Senin (12/5/2025).
Agung menjelaskan, aktivitas bank plecit dan sejenisnya cukup banyak berdampak ke masyaralat.
Terutama masyarakat yang menjadi korban meminjam uang di bank plecit.
Temuan pihaknya, banyak korban bank plecit di sektor perekonomian dan niaga.
Salah satu sarang operasi bank plecit adalah area pasar.
Temuan itu bukan tanpa alasan.
Metode operasional bank plecit dinilai lebih lihai dibanding bank konvensional.
Lantaran, secara sistematis bank plecit mencari target door to door .
Jika target merupakan penjual di suatu pasar, maka bank plecit akan menawarkan pinjaman uang tunai secara langsung ke pasar.
Tentunya, bunga atas pinjaman juga tergolong tinggi dibanding bank konvensional.
Rata-rata rasio bunga berkisar 15-20%.
"Memang untuk memberantas cukup sulit, karena suplay and demand," ungkapnya.
Keberadaan bank plecit tak bisa langsung dihilangkan.
Lantaran, bank plecit hadir saat kebutuhan meminjam di masyarakat ada.
Selain regulasi, pihaknya juga berfokus menyadarkan masyarakat terkait bahaya bank plecit.
Utamanya, bunga tinggi yang menggerogoti nasabahnya.
Pemkab juga melakukan optimalisasi koperasi dan BUMKal yang memiliki unis usaha simpan pinjam.
Tujuannya, agar masyarakat tetap terfasilitasi dalam kebutuhan simpan pinjaman.
Tentunya, transaksi pinjaman terjamin tanpa harus menerima bunga besar.
Aktivitas bank plecit di area pasar dibenarkan Pedagang Pasar Wates Jaimalis.
Pedagang baju di kios pasar ini mengungkapkan banyak pedagang yang telah masuk jerat rentenir dan bank plecit.
"Banyak kejadian seperti itu, jualan lagi sepi tapi malah keceblek hutang dengan bunga tinggi," ungkapnya.
Banyak pedagang di Pasar Wates yang tergiur pinjaman uang tunai tanpa jaminan.
Padahal kebanyakan merupakan rentenir yang memberikan bunga tinggi.
Akibatnya, pedagang tak mampu melunasi hutang mereka. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva