KULON PROGO - Relokasi pedagang Pasar Burung Gawok ke Pasar Hewan Terpadu Pengasih tak berdampak besar. Justru pedagang merasakan sepinya pembeli yang berujung penurunan omzet. Kondisi diperparah dengan tingginya retribusi pasar.
Setiap harinya, para pedangang pindahan dari belakang Terminal Wates itu dibebankan biaya Rp 9 ribu. Sedangkan pendapatan hanya puluhan ribu rupiah. Berbeda jauh saat mereka berada di Pasar Burung Gowok. Uang yang dikantongi tiap pedagang bisa mencapai Rp 500 ribu.
"Pasar (sekarang, Red) ndelik jauh dari keramaian, pengunjung sepi, omzet juga turun," keluh perwakilan Paguyuban Pedagang Pasar Burung Muhammad Alaianto saat ditemui Radar Jogja Rabu (7/5).
Alaianto mengaku, dipindahnya pedagang dari pasar lama sebenarnya tak menimbulkan gejolak. Lantaran, pemindahan merupakan program Pemkab Kulon Progo pada 2020.
Saat itu, penjualan di pasar baru akan semakin meningkat. Namun harapan itu sirna. Lokasi yang jauh dari angkutan umum dan tidak adanya infrastruktur penunjang, tak menarik minat pengunjung datang.
Duka mendalam semakin dirasakan pedagang saat retribusi dinaikkan hampir 120 persen. Dia pun mencontohkan kondisi pedagang pakan ternak. Agar bisa membayar retribusi, setidaknya pedagang harus menjual 18 kilogram. Dengan keuntungan per kilogramnya adalah Rp 500.
"Bisa jual 10 kilogram itu sudah sangat bersyukur, karena memang susah untuk jual di sana," lontarnya.
Kepala BKAD Kulon Progo Taufik Amrullah tak menampik kondisi retribusi yang dirasa membebani pedagang. Dia pun hanya bisa memohon maaf atas penentuan retribusi yang dinilai terlalu tinggi. "Ini murni kesalahan kami, seharusnya perbup untuk meringankan retribusi segera dibuat 2024 lalu," ungkapnya.
Saat itu, pemkab sebenarnya telah melakukan kajian dari penerapan retribusi. Namun, pembuatan perbup untuk penyesuaian retribusi tak segera dilakukan. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita