Nasib baik selalu menghampiri orang baik.
Begitulah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan sosok Agustinus Sulistyo,42.
Pria asli Perbukitan Menoreh ini, berhasil membangunkan kembali sejarah industri kopi di Bumi Binangun.
ANOM BAGASKORO, Kulon Progo
Kisah suksesnya, berawal dari keputusan keluar dari pekerjaannya di perusahaan multi national company, 2019 silam.
Perusahaan tempat dia bekerja memang memberikan penghasilan yang cukup besar kala itu.
Perusahaan itu bergerak di bidang kecantikan, yaitu pembuatan produk masker dari biji kopi.
"Dulu bekerja di perusahaan masker kopi, tapi secara batin ada yang mengganjal," ucap pria yang akrab dipanggil Tyo, Jumat (2/5/2025).
Kendati memiliki gaji yang mentereng, Tyo merasa tak betah bekerja di perusahaan itu.
Bukan karena perusahaannya, melainkan saat melihat kopi yang digunakan sebagai bahan dasar masker, dirinya teringat kampung halaman.
Tempat kelahirannya Kalurahan Pagerharjo, Kapanewon Samigaluh memiliki rekam jejak sejarah pertanian kopi.
Akan tetapi, pada 2018 pertanian kopi seakan mati ditelan bumi.
Gusar dengan keadaan itu, Tyo memutuskan keluar dari perusahaan untuk bertani kopi di kampung halaman.
Bermodal otodidak, pertanian kopi ala Tyo akhirnya dimulai.
Butuh riset bertahun-tahun, dengan penuh kegagalan untuk mengoptimalkan pertanian kopi.
"Dulu Pagerharjo merupakan tempat Cultuur Stelsel kopi, varietasnya Kopi Liberica kalau orang sini kopi londo," ucapnya.
Berbekal sejarah tanam paksa di masa Penjajahan Belanda, Tyo merasa percaya diri.
Di waktu penjajahan, masyarakat sekitar dengan segala keterbatasan mampu menanam dan mengolah kopi Liberica.
Jika dibandingkan dengan era modern, pertanian kopi seharusnya bisa lebih optimal dibanding zaman dulu.
Berbekal semangat dan ketekunannya, pertanian kopi miliknya sukses.
Dari awalnya hanya satu pohon kopi liberica, kini pertanian kopinya telah menampung ribuan tanaman kopi berbagai varietas. Mulai dari Robusta, Arabika, hingga liberika.
"Baru bisa panen setelah tiga tahun, awal panen sekitar ratusan kilogram, sekarang semakin tua semakin banyak berbuah, terakhir 4,8 ton kopi," ujarnya.
Tyo menyampaikan, kisahnya merintis usaha tak ujug-ujug langsung sukses.
Selain harus menunggu pohon kopi siap berbuah selama bertahun-tahun, dirinya perlu memastikan tanaman kopi tetap tumbuh.
Masalah air seringkali dihadapi. Lokasi pegunungan yang kekurangan air saat musim kemarau membuat dirinya terpaksa merasakan mengambil air dari sumbernya yang cukup jauh dari lahan.
Terkadang ratusan pohon kopi juga mati akibat kekurangan air.
Akan tetapi, kendala itu dilewati dengan rasa tekun. Alhasil, buah keberhasilan usahanya mulai terlihat. Semenjak panen perdana, setiap tahunnya pohon kopi terus menghasilkan buah yang meningkat.
"4,8 ton biji kopi dihargai Rp 6 ribu, itu hasil panen belum yang olahan silahkan hitung sendiri," ujarnya.
Kegigihannya juga tak hanya dibidang pertanian.
Namun juga terlihat saat membangun lini bisnis hulu hilir kopi, dengan dibentuknya Trajumas Java Cofee.
Hasil panen tak hanya dijual ke tengkulak, melainkan juga diproses hingga siap diseduh. Membuat keuntungan menjadi berkali lipat.
Tak puas dengan kesuksesan yang dinikmati sendiri, Tyo justru mengajak masyarakat Pagerharjo untuk kembali menanam kopi.
Kini ajakannya membuahkan hasil ada 30 petani kopi yang kini menikmati hasilnya.
Berkat pemberdayaan masyarakat, Kalurahan Pagerharjo mendapat bantuan dari pemerintah, mulai dari Dais hingga CSR. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva