Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pelestari Cemara Udang di Sindutan Merasa Usaha sejak 2019 Sia-Sia, Cukup Dipruning Bukan Ditebang

Anom Bagaskoro • Kamis, 1 Mei 2025 | 02:42 WIB

 

 

PENEBANGAN: Aktivitas ilegal berupa pemotongan pohon cemara udang.
PENEBANGAN: Aktivitas ilegal berupa pemotongan pohon cemara udang.

KULON PROGO - Pembukaan lahan greenbelt mendapat respon kekecewaan dari pelestari lingkungan Kelompok Pelestari Bumi Lestari Kalurahan Sindutan. Lantaran, mereka cukup berperan dalam menanam pohon cemara udang di greenbelt selama bertahun-tahun.

Ketua Kelompok Pelestari Greenbelt Bumi Lestari Edi Purnomo menyampaikan kekecewaannya. Lantaran, pihaknya berupaya menghijaukan greenbelt sejak 2019 silam. Tentunya, mengalami berbagai kendala yang harus ditanggung pihaknya selama ini.

"Kalau musim kemarau, menghidupkan cemara udang sangat sulit," ucap Edi, Rabu (30/4). 

Edi menjelaskan, penghijauan greenbelt telah diupayakan oleh pihaknya. Baik secara swadaya maupun dengan bantuan pihak instansi lain. Tak hanya menanam bibit, mereka juga melakukan perawatan untuk memastikan pohon bisa hidup.

Akan tetapi, pihaknya dikagetkan dengan penebangan yang dilakukan oleh PT Direktif Utama Indonesia.

Dalam catatannya, pohon cemara udang di greenbelt Sindutan telah ditebang sampai seluas tiga hektare. Sedangkan, Kalurahan Palihan baru ditebang sekitar dua hektare.

"Kemarin memang diajak kendhuri, tetapi kami meminta agar tak ditebang cukup dipruning," ucapnya.

Kelompok pelestari greenbelt sebenarnya telah mendapat informasi rencana pembuatan lahan jagung. Saat itu, ditandai dengan acara kenduri yang dilakukan di area greenbelt.

Di acara itu, pihaknya menyampaikan agar pohon cemara udang tak ditebang. Pelestari menginginkan agar penggarap lahan cukup melakukan pruning atau pemotongan dahan.

Pemotongan dahan dinilai menjadi jalan tengah. Tujuannya, agar lahan dapat ditanami jagung dan mendapat suplai sinar matahari. Metode tumpangsari tentunya juga menjadi jalan tengah. Lantaran, kebanyakan masyarakat di Sindutan juga melakukan penanaman cabai di lahan cemara udang.

"Tiba-tiba ditebang, kami down (kecewa)," ujarnya.

Selain penebangan, cemar udang dianggap sebahai sistem mitigasi bencana tsunami. Masyarakat meyakini, keberadaan cemara udang mampu meredam gelombang tsunami. Akibat penebangan, banyak masyarakat yang khawatir dengan isu tsunami. (gas/pra)

Editor : Herpri Kartun
#cemara udang #pelestari lingkungan #penghijauan #greenbelt