Kulon Progo - Aksi vandalisme kerap menjadi "PR" berbagai wilayah. Masifnya sasaran di ruang publik dan fasilitas umum (fasum) membuat aktivitas masyarakat terganggu. Melawan keberadaan vandalisme, Polda DIY merangkul berbagai lapisan masyarakat melakukan penghapusan vandal di perkotaan Wates.
Terik sinar matahari tak membuat ratusan anggota lintas komunitas berhenti menghapus bekas pilox di Underpass Kemiri, Sabtu (26/4). Bermodal kuas, roller, dan cat mereka secara sukarela menghapus coretan di dinding beton.
Nampak setelah dihapus, dinding beton underpass seperti baru kembali. Padahal sebelumnya ratusan coretan berukuran kecil dan besar mewarnai tembok.
"Iki sopo to sing nyoret, nambahi gawean wae," ucap salah seorang peserta yang merupakan emak-emak. Sontak ucapan dan celotehan dari emak-emak itu menimbulkan gelak tawa peserta lain. Kendati ada celotehan, sebenarnya emak-emak yang menjadi peserta telah mengikuti kegiatan menghapus vandal sejak awal.
Rute penghapusan vandal di perkotaan Wates sebenarnya cukup panjang. Mulai dari eks Teteg Wetan, Underpass Kemiri, dan Alun-Alun Wates. Tentu memakan banyak waktu dan tenaga untuk menghapus ribuan vandal yang tak jelas asal usulnya itu.
Di Bumi Binangun, aksi vandalisme sebenarnya belum terlalu masif. Namun jika dilihat dari coretan pilox di dinding pertokoan, rolling door, dan pagar bangunan, aksi vandal terlihat cukup jelas. Adanya kegiatan penghapusan vandal menjadi contoh tegas peran serta masyarakat melawan vandal. Lantaran, vandal merupakan polusi mata yang mau tak mau cukup berpengaruh terhadap aktivitas masyarakat.
"Kami memang sengaja menggandeng masyarakat yang tergabung dalam lintas komunitas," ucap Kanit III Propaganda Direktorat Intelkam Polda DIY AKP Rinto Pamuji saat ditemui wartawan usai kegiatan penghapusan, Sabtu (27/4).
Ia menyampaikan, penghapusan vandal melibatkan berbagai lapisan masyarakat. Utamanya komunitas besar di Kulon Progo dan lebih luas DIY. Di antaranya, Komunitas Facebook Jogja Menyapa dan Relawan Seruj4x4. Mereka secara sukarela mengikuti kegiatan itu.
Menurutnya, aksi vandalisme banyak ditemukan di DIY. Kebanyakan vandal dilakukan oleh anak muda kelebihan energi. Mereka tak memiliki kepedulian lingkungan sehingga melakukan corat-coret, lalu meninggalkan coretan tanpa perbaikan.
Aksi penghapusan bersama komunitas, diharapkan mampu menekan aksi vandalisme. Kampanye penghapusan itu dinilai mampu meminimalisasi. Terutama komunitas media sosial yang ikut serta melakukan aksi dapat memberikan dampak psikologis ke pelaku vandal.
"Semoga aksi ini dapat berdampak dan turut mengendalikan aksi vandal di DIY," ucapnya.
Perwira polisi ini menyampaikan, aksi penghapusan akan terus belanjut. Bukan hanya dilakukan sebagai kampanye sekali pakai, kegiatan penghapusan akan terus dilanjutkan. Lantaran penghapusan memiliki tujuan mengendalikan aksi vandalisme. (laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita