Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Sekedar Adu Kecepatan, Komunitas Moge Menggelar Balapan dan Promosikan Wisata Kulon Progo

Anom Bagaskoro • Minggu, 27 April 2025 | 22:25 WIB

BALAPAN: Motor menerjang rintangan gravel di Air Terjun Kahyangan Pendoworejo.
BALAPAN: Motor menerjang rintangan gravel di Air Terjun Kahyangan Pendoworejo.
KULON PROGO - Komunitas BMW Motorrad Indonesia menggelar race atau balapan di Bumi Binangun, Sabtu (27/4).

Acara bertajuk BMW Motorrad GS Race Indonesia seri ke-3 ini, juga sekaligus mempromosikan pariwisata. Lantaran, beberapa tempat wisata menjadi tujuan dan tempat kegiatan.

Komisaris BMW Motorrad Indonesia Dean Martin menyampaikan, beberapa kegiatan diselenggarakan di Kulon Progo.

Di hari pertama, kegiatan utama adalah berkeliling ke tempat wisata. Sedangkan hari kedua moge produksi BMW akan melibas arena balapan di Kulon Progo.

"Kalau di Girimulyo, kami mengadakan balapan dan uji ketangkasan," ucap Martin, Sabtu (26/4).

Martin menyampaikan, konsep balapan kali ini tentu tak sekedar adu kecepatan.

Melainkan, pihaknya ingin berfokus pada peningkatan kemampuan pemilik BMW.

Lantaran, motor produksi jerman merupakan moge yang memiliki cc mesin besar. Sehingga, dibutuhkan tenaga, stamina, dan ketangkasan pengguna.

Dalam ajang race, terbagi beberapa kategori. Diantaranya, kategori kelas 310, kelas big bike duatas 700 cc, maupun free for all.

Setiap kelas juga memiliki tantangan yang harus dilewati, seperti obstacle, tanah berlumpur, sungai, maupun jalur menanjak. Hal ini berkaitan dengan wilayah Pendoworejo yang memiliki geografis pegunungan.

"Ada kategori lady biker, karena pengguna juga banyak dari kaum hawa," ungkapnya.

Paling menarik dari balapan, saat banyak biker perempuan yang mampu menerjang lintasan.

Motor ber-cc besar dengan bobot di atas rata-rata seakan gampang ditaklukan oleh biker perempuan. Dalah satu biker wanita Yunita mengaku antusias mengiku balapan itu.

"Ini kali pertama, cukup seru dan pengalaman baru," ujarnya.

Yunita menyampaikan, balapan kali pertama memberikan pengalaman baru. Lantaran, balapan menggunakan moge memiliki teknik tertentu. Terutama untuk melibas lintasan, yang masih bersifat alami.

Senada dengan Yunita, Pembalap Moge asal Bekasi Mubarok menjelaskan keseruannya mengikuti balapan.

Walau menjadi pengalaman pertama, kesempatan balapan justru menambah pengalaman.

"Kalau yang sulit pas jaga keseimbangan, tracknya masih bisa dikuasai," ujarnya.

Mubarok menyampaikan, ketika mengikuti race kelas 310 dirinya harus mengendarai moge di lintasan pertama.

Lintasan pertama tak terlalu fokus pada kecepatan. Lantaran, obstacle lintasan pertama berfokus pada keseimbanga. Terutama di rintangan pertama, pengendara motor harus turun dari moge.

Setelah turu, pengendara dilarang menyadarkan mogenya. Pengendara diwajibkan memutar dan mengitari sepeda motor.

Hal ini, membutuhkan tenaga besar. Mengingat beban moge diatas 300 kg.

Pada lintasan kedua, moge akan memacu kendaraan secepat mungkin. Akan tetapi, medan kendaraan terbuat dari tanah basah. Sehingga, kecepatan dan ketepatan mengendarai perlu diperhatikan.

Setelah mampu menerjang medan basah, pembalap ditantang melewati Sungai kahyangan di lintasan ketiga. (gas)

Editor : Bahana.
#Kulon Progo #Komunitas Moge