Berawal dari uang Rp 300 ribu, warga padukuhan berhasil membangun fasum secara swadaya.
Ketua Pembangunan Balai Padukuhan Klampok Sutrisna menyampaikan, pembangunan balai membutuhkan waktu lama.
Lantaran, bangunan merupakan hasil swadaya masyarakat. Bahkan pembangunan sempat terhenti semasa pandemi covid-19.
"Pembangunan dilakukan dua tahap, mulai pondasi dari 2020, tetapi dihantam pandemi," ucap Sutrisna, Minggu (27/4).
Pembangunan balai mulai dilangsungkan tahun 2020 dengan menelan anggaran Rp 37 juta.
Sempat dihantam covid, warga tak patah arang untuk membangun fasum. Secara swadaya warga mengumpulkan material, seperti batu dan pasir. Pengerjaan balai juga dilakukan secara bergotong royong, untuk meminimalisir pengeluaran tenaga.
Tahap kedua, setelah bagian bawah bangunan terbentuk warga mulai melanjutkan pembangunan dengan intens di tahun 2025.
Perekonomian yang membaik pasca covid, membuat warga semangat memberikan sumbangan, mulai dari bahan hingga uang tunai. Jika ditotal, pembangunan balai membutuhkan anggaran Rp 325 juta.
"Dari warga rata-rata memberikan sumbangan Rp 300 ribu, ada juga yang memberikan material," ucapnya.
Sutrisna menyampaikan, warga Padukuhan Klampok dinilai memiliki rasa kepedulian yang tinggi. Lantaran, pembangunan tak hanya membutuhkan modal swadaya. Namun, juga membutuhkan tenaga kerja swadaya.
Setiap harinya, warga akan bergantian membangun balai sesuai piket yang telah disepakati bersama.
Semangat warga dalam membangun balai, tak lain tak bukan demi kepentingan masyarakat. Pasalnya, balai padukuhan akan difungsikan sebagai ruang berkumpul masyarakat.
Tak sampai situ, bangunan pendopo juga digunakan untuk usaha. Seperti penyewaan tempat pernikahan. Jika penyewa murpakan warga Klampok, tentunya pendopo bisa digunakan tanpa harus mencari tempat yang mahal.
Setelah melakukan swadaya lebih dari empat tahun, balai padukuhan resmi dioperasikan bulan April. Peresmian juga mengundang Bupati Kulon Progo Agung Setyawan.
Dalam kesempatan berbeda, Agung Setyawan mengapresiasu langkah Warga Padukuhan Klampok.
"Di masa banyak orang mengeluh penghasilan berkurang, masyarakat Klampok justru swadaya dengan penuh rasa kebersamaan," ucapnya. (gas)
Editor : Bahana.