KULON PROGO - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Samigaluh Kulon Progo punya cara tersendiri dalam memenuhi program makan bergizi gratis (MBG).
Mereka melakukan modifikasi motor dan gerobak.
Untuk menembus tantangan geografis di Perbukitan Menoreh, yang medannya terjal.
Layanan ini sudah beroperasi sejak 10 hari terakhir. Selama beroperasi, belum ada kendala yang dihadapi.
Meski, medan yang dilalui tak mudah.
Samigaluh, merupakan salah satu wilayah yang lokasinya berbukit.
"Kami menyebutnya tantangan, memang wilayah utara Kulon Progo punya medan berbukit," ungkap Pengelola SPPG Samigaluh Titisari Dwi Hernawati saat ditemui Radar Jogja di dapur SPPG Samigaluh, Kalurahan Gerbosari, Jumat (25/4/2025).
Bahkan pengantaran paket makanan tak menjadi hambatan.
Tantangan medan perbukitan, berupa tanjakan, turunan, dan jalan yang berlubang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Untuk mengoperasionalkan SPPG, pihaknya perlu memetakan sekolah-sekolah di wilayah Samigaluh yang hendak melaksanakan MBG.
Dari pemetaan, terdapat 52 sekolah yang terdiri dari PAUD/TK, SD, SMP, dan SMA.
"Setiap harinya kami melayani 3.117 siswa yang tersebar di empat kalurahan," ucapnya.
Untuk mengatasi tantangan geografis, pihaknya sengaja memetakan wilayah.
Wilayah yang memiliki medan yang mudah dijangkau akan difokuskan menggunakan roda empat.
Sedangkan, wilayah dengan medan terjal menggunakan roda dua.
Tak tanggung-tanggung, untuk memenuhi pengantaran agar tepat waktu dan mutu pihaknya memiliki dua kendaraan roda empat dan lima kendaraan roda dua.
Roda empat biasanya digunakan untuk mengatarkan paket makanan di sekolah yang berada di dekat jalan utama.
Sedangkan roda dua digunakan untuk menyentuh wilayah pinggiran Kapanewon Samigaluh.
Wilayah pinggiran memiliki kekurangan infrastruktur. Banyak jalan tak muat dilalui roda empat.
"Selain itu, kebanyakan sekolah di Samigaluh melewati gang pedesaan yang kecil. Kami juga melakukan modifikasi pada motor, dan penambahan gerobak," ujarnya.
Motor pengantar makanan juga harus berjibaku dalam menerabas medan terjap pegunungan.
Menggunakan motor bebek 125 cc, dan dikendarai oleh tangan yang tepat, motor mampu menjelajah wilayah terjal.
Untuk melakukan pengantaran, motor perlu modifikasi penguncian drngan gerobak.
Modifikasi penguncian dilakukan untuk menjaga agar gerobak tetap berada di jok belakang motor, walaupun kondisi medan menanjak.
Selain itu, gerobak juga dibuat dengan cara khusus.
Gerobak memiliki sekat dengan ukuran yang sama persis dengan wadah makanan.
Tujuannya, agar makanan tak gampang rusak saat tergoncang. Satu gerobak biasanya mampu menampung 100 paket makanan.
Membuktikan pernyataan SPPG, Radar Jogja berkesempatan mengikuti aktivitas pengantaran.
Dari SPPG Radar Jogja mengikut pengantaran dari dapur menuju SD Kemiriombo. Melewati hutan, dengan jalan berukuran 1,5 meter pengantar sigap menembus medan.
Seakan sudah makanan sehari-hari, gang berlumut, jalan tanjakan, dan belubang dilibas.
Jarak dapur ke sekolah sebenarnya hanya 2 kilometer.
Namun memerlukan waktu 30 menit. Lantaran, kendaraan tak bisa memacu kecepatan melihat medan yang sulit.
"Tidak bisa memntingkan kecepatan, nanti malah makananya rusak," ucap Pengantar MBG Muhammad Khoirul, sambil memberikan paket makanan ke sekolah.
Khoirul menyampaikan, sekali rute dirinya mampu mengantarkan makanan sejumlah seratus paket.
Rute terlama bisa memakan waktu hingga dua jam. Terkadang selama di perjalanan, dirinya menemui kendala. Untungnya kendala tak berpengaruh terhadap pengantaran.
"Kalau hujan itu susah sekali, kami harus tetap menjaga makanan sekaligus mengantarkan tepat waktu," ujarnya.
Ketika hujan melanda, pengantar makanan harus memastikan keadaan makanan.
Selain itu, jalan berlumut terkadang sangat licin saat hujan terjadi. Akibatnya, pengantaran bisa melambat, karena kendaraan tak bisa dipacu.
Kendati mengalami kesulitan, dirinya menikmati pekerjaan pengantar.
Lantaran, saat mengantarkan banyak anak sekolah yang menyemangati dan memberikan ucapan terimakasih.
Hal itu, menjadi pengobat duka dan lelahnya menerjang medan Perbukitan Menoreh. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva