KULON PROGO - Program ketahanan pangan terus digenjot oleh pemerintah. Di Kulon Progo, dukungan ketahanan pangan berupa penanaman padi serentak. Bedanya, menanam padi kali ini tidak menggunakan metode manual. Tetapi dengan alat pertanian tanam.
"Metode transplanter, lebih efisien," sebut Bupati Kulon Progo Agung Setyawan Rabu (23/4).
Agung menyampaikan, penggunaan alat pertanian di penanaman padi serentak merupakan komitmen pemkab dalam menciptakan swasembada pangan. Lantaran, teknologi pertanian cukup efektif dalam menggenjot angka produksi gabah regional.
Sebagai contohnya, penggunaan alat tanam mampu memangkas beberapa faktor produksi. Jumlah sumber daya manusia yang kian hari menyusut di sektor pertanian, dapat digantikan dengan teknologi.
Selain itu, teknologi pertanian alat tanam juga memangkas waktu tanam. Sebab untuk menanam 1.000 meter persegi atau 0,1 hektare benih padi, teknologi pertanian hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Sedangkan jika penanaman menggunakan metode manual, membutuhkan waktu setangah hari dengan luas yang sama. Dengan catatan, jumlah penanam mulai dari 5-6 orang.
Penanaman padi serentak di Kulon Progo juga berbeda dari daerah lain. Benih padi yang ditanam merupakan varietas Gama Pora. Pemilihan varietas ini tak terlepas dari kondisi lahan di Kulon Progo. Tentunya mempertimbangkan kelangsungan hidup padi hingga panen.
"Untuk penyediaan bibit dan alat kami kerja sama dengan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian," ungkapnya.
Baca Juga: Polisi Selidiki Kematian Dosen Asal Semarang di Caturtunggal Sleman, Empat Saksi Diperiksa
Agung menjelaskan, panen perdana diharapkan mampu membawa hasil yang baik. Lantaran, kebutuhan pangan semakin lama semakin meningkat. Sehingga, produksi pangan perlu digenjot, utamanya produksi gabah. (gas/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita