KULON PROGO - Implementasi koperasi Tomira yang menaungi waralaba untuk menyerap produk UMKM lokal tak optimal.
Hal ini ditunjukkan dengan sedikitnya produk lokal yang lolos masuk dalam display waralaba.
Kajian sementara, penyebab tak optimalnya Tomira diakibatkan pada manajemen koperasi.
Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Dinperinkop UKM) Kulon Progo Iffah Mufidati membenarkan kondisi itu.
Sejauh ini, ketidakoptimalan Tomira sudah terlihat sejak awal berdiri.
"Produk UMKM Kulon Progo sebenarnya sudah sangat pantas masuk waralaba, saat ini ada 39 produk," ucap Iffah, Jumat (11/4/2025).
Iffah menjelaskan, sebenarnya produk hasil UMKM lokal bisa bersaing di tingkat waralaba.
Lantaran, sudah ada bukti konkrit produk yang yang lolos kurasi dari waralaba, baik indomarco maupun alfamart.
Berdasarkan data Dinas Perdagangan Kulon Progo, jumlah UMKM keseluruhan di Bumi Binangun pada 2024 ada 6.973.
Adapun jumlah waralaba ada 50 toko dan jumlah Tomira 24.
Selama ini, untuk produk lokal bisa masuk ke waralaba diperlukan kurasi. Terdapat dua tahap kurasi, yaitu kurasi dari dinas dan waralaba.
Kurasi dari dinas memiliki penilaian yang mirip dengan waralaba.
Sehingga, produk UMKM yang lolos kurasi awal dipastikan lolos kurasi waralaba.
Setelah lolos kurasi, produk UMKM akan mendapat kode barcode di setiap kemasannya.
Hal ini digunakan untuk inventarisir produk yang masuk waralaba, dan identifikasi pembukuan keluar masuk barang.
"Yang masih perlu perbaikan adalah sistem koperasi," ujarnya.
Munculnya temuan waralaba Tomira yang tak sesuai regulasi dari sudut penyediaan produk lokal disebabkan beberapa hal.
Salah satunya, manajemen koperasi yang harus diperbaiki.
Kasus utama pada koperasi yang menaungi waralaba, tak melakukan input data keluar masuk produk UMKM.
Dampak dari kelalaian itu menjadikan jumlah produk UMKM yang tersedia di display tak terpenuhi.
Lantaran, sistem input data tidak memastikan restock dan inventarisir produk secara realtime.
"Kami akan segera melakukan pendampingan ke Koperasi Tomira," ujarnya.
Iffah menjelaskan, pendampingan intens akan dilakukan untuk mengoptimalkan koperasi Tomora.
Nantinya, untuk menampung produk UMKP, pihaknya akan menggunakan metode satu pintu.
Alasannya, agara produk UMKM dapat terinventarisir dengan baik.
Sebelumnya, Wakil Bupati Kulon Progo Ambar Purwoko berjanji akan segera mengkaji optimalisasi Tomira.
Lantaran, saat peninjauan ditemukan ketidaksesuai ketersediaan produk lokal.
"Tidak sesuai aturan, harusnya 30 persen keterwakilan produk lokal," ungkapnya. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva