KULON PROGO - Prediksi BMKG menunjukkan adanya potensi cuaca ekstrem yang akan melanda sejumlah wilayah di DIY.
Mengantisipasi dampak dari cuaca buruk, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulon Progo menyiapkan EWS di wilayah rawan longsor.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kulon Progo Heri Darmawan menyampaikan, pihaknya telah menerima informasi dari BMKG.
Selama empat hari kedepan, Bumi Binangun diprediksi mengalami cuaca ekstrem.
"Mulai 10-14 April, prediksinya akan ada cuaca ekstrem," ungkapnya.
Cuaca ekstrem selama empat hari ke depan, disebabkan adanya aktivitas siklon di Samudera Hindia.
Hal ini berpotensi membuat munculnya awan hujan di Pulau Jawa dengan tingkat konsentrasi pekat. Akibatnya, potensi cuaca ekstrem dapat terjadi.
Potensi bencana alam akibat cuaca ekstrem dimungkinkan terjadi.
Melihat kondisi geografis, Bumi Binangun memiliki potensi bencana berupa tanah longsor, dan banjir saat cuaca ekstrem terjadi.
"Rawan longsor ada di Perbukitan Menoreh, dan rawan bajir di sekitar bantaran sungai," ungkapnya.
Heri menyampaikan, mitigasi bencana longsor telah dilakukan pihaknya.
Salah satunya, dengan memasang early warning system di daerah rawan longsor.
Terutama di Perbukitan Menoreh yang menjadi lokus bencana longsor.
EWS dipastikan akan selalu aktif, dan selalu dipantau pihaknya.
Jika terjadi pergerakan tanah tidak normal, EWS akan memberikan sinyal peringatan.
BPBD lantas menerjunkan personel untuk evakuasi, sebelum bencana longsor terjadi.
"Total ada delapan EWS, ada di Girimulyo, Samigaluh, dan Kokap," ungkapnya.
Selain bencana longsor, potensi banjir di Bumi Binangun juga ada.
Menginat banyaknya sungai-sungai besar, membuat banjir luapan air dapat terjadi sewaktu-waktu.
Terutama wilayah hilir sungai, seperti Panjatan, Pengasih, Lendah, dan galur yang kerap menjadi langganan banjir.
Mitigasi bencana banjir dilakukan dengan pemantauan debit air di daerah hulu sungai.
Jika terjadi kenaikan debit air sungai secara signifikan, tanpa ada penurunan intensitas hujan pihaknya segera melakukan himbauan.
Terdapat selisih beberapa jam untuk air limpahan sungai menggenangi bagian hilir.
Sehingga, pihaknya bisa melakukan evakuasi.
"Kami tak bosan-bosan menghimbau masyarakat, agar waspada," ujarnya.
BPBD Kulon Progo menghimbau agar masyarakat selalu melihat kondisi alam sekitar.
Di daerah rawan longsor, masyarakat dapat melihat pergerakan tanah selama musim hujan.
Jika ada pergerakan tanah yang ekstrim, masyarakat diharapkan dapat mengevakuasi diri sendiri.
Masyarakat juga diminta memantau prediksi cuaca yang dikeluarkan BMKG. Terutama yang tinggal di bantaran sungai.
Jika bagian hulu telah mengalami hujan lebat, masyarakat diharapkan waspada dengan potensi banjir. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva