Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Bulog Kanwil Yogyakarta Janjikan Serap GKP Petani Melalui Tim Jemput Gabah

Anom Bagaskoro • Senin, 7 April 2025 | 20:31 WIB


UNTUNG: Petani menjual gabah kering panen ke Tim Jemput Gabah Bulog. 
UNTUNG: Petani menjual gabah kering panen ke Tim Jemput Gabah Bulog. 

KULON PROGO - Upaya menyerap gabah untuk program swasembada dan peningkatan kesejahteraan petani terus dilakukan.

Bulog Kanwil Jogjakarta bahkan menjanjikan penyerapan gabah kering panen (GKP) melalui Tim Jemput Gabah.

Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jogjakarta Ninik Setyowati menyampaikan, Bulog telah berupaya menyerap gabah langsung dari petani.

Serapan gabah ini, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Lantaran, kini gabah panenan langsung dari petani langsung bisa dijual ke Bulog.

Upaya penyerapan bahkan dilakukan dengan sistem jemput bola. Petani yang hendak panen bisa menghubungi penyuluh pertanian, Babinsa, ataupun menelfon Bulog.

Jika telah menelfon, Bulog akan mendatangi lokasi sawah. Gabah hasil panen akan langsung ditimbang, dan petani akan mendapat uang tunai.

"Tidak ada kriteria khusus, petani bisa menjual gabah panen dengan harga Rp 6.500," ucap Ninik, saat ditemui awak media pada panen raya di Kalurahan Kedungsari, Pengasih, Senin (7/4/2025).

Ninik menjelaskan, penyerapan GKP langsung dari petani telah dilakukan. Di DIY serapan GKP ditargetkan di angka 14 ribu ton.

Saat ini, Bulog Jogjakarta telah mampu menyerap 9.500 ton. Sedangkan target di Kabupaten Kulon Progo sejumlah 2.400 ton, dan telah terserap 2.300 ton.

Kendati serapan gabah hampir terpenuhi, Ninik menegaskan Bulog akan terus menyerap gabah dari petani. Pihaknya akan menyerap surplus gabah panen yang berada DIY, hingga memastikan gudang Bulog penuh.

"Tahun lalu gudang bulog tidak penuh, karena harga yang ditetapkan tidak bersaing," ujarnya.

Kebijakan penentuan HPP Gabah dan penyerapan dari Bulog cukup berdampak.

Sebelumnya, petani lebih memilih menjual gabah ke tengkulak.

Lantaran, harga yang ditawarkan lebih rendah dari harga pasar. Akibatnya, gudang Bulog di DIY lenggang dari tumpukan stok gabah.

Sejak penerapan kebijakan baru, petani lebih memilih menjual gabah ke Bulog. Pasalnya, harga gabah di atas harga pasar.

Terlebih tak ada kriteria khusus agar gabah bisa terserap.

"Dengan kebijakan ini, setiap daerah bisa swasembada pangan," ujarnya.

Keberadaan penyerapan gabah diharapkan mampu mewujudkan swasembada pangan.

Selain itu, penyerapan gabah dari petani juga diklaim mensejahterakan petani.

Lantaran, harga jual gabah mampu menutup biaya operasional dan memberikan keuntungan.

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Ngramang, Kedungsari Wiwit Suroto mengaku merasa terbantu dengan kebijakan penyerapan gabah.

Terutama perihal HPP gabah yang mensejahterakan petani.

"Sebelumnya dijual tengkulak, dengan harga Rp 5.000, sekarang jadi Rp 6.500," ujarnya.

Wiwit menjelaskan, harga dari penjualan gabah di Bulog sangat membantu petani dalam memperbaiki ekonomi keluarga.

Lantaran, hasil panen membawa keuntungan jika dibandingkan dari tahun sebelumnya. (gas)

Editor : Meitika Candra Lantiva
#Yogyakarta #bulog #kanwil #Petani #GKP #Tim Jemput Gabah