Di Bumi Binangun, tren kasus mulai menurun dan hanya meninggal beberapa sisa kasus.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertapa) Kulon Progo Drajat Purbadi menyampaikan, tren penurunan kasus PMK.
Hal ini juga berlaku di kabupaten/kota se-DIJ. Tren penurunan telah terjadi sejak awal Maret.
"Secara kumulatif hingga 20 Maret terdapat 79 kasus PMK, 69 kasus diantaranya telah sembuh," ucap Drajat, Minggu (23/3).
Drajat menyampaikan, akan tetapi terdapat dua kasus sapi mati sejak awal februari lalu. Sehingga, total masih ada delapan kasus hewan ternak yang masih proses penyembuhan.
Akan tetapi, pihaknya telah memastikan adanya tren penurunan kasus.
Lantaran, rata-rata penularan kasus setiap bulannya mencapai 20 ekor hewan ternak perbulannya.
Namun, sejak pertengahan Februari kasus mengalami penurunan dan hanya menyisakan kasus PMK tahap penyembuhan.
"Total serapan vaksin mencapai 11.185 vaksin," ucap Drajat.
Drajat menjelaskan, serapan vaksi di Kulon Progo tergolong optimal dibading kabupaten kota lainnya.
Hal ini membuat penanganan kasus PMK di Kulon Progo bisa optimal. Terutama mencegah penularan kasus PMK.
Kebanyakan kasus PMK di Kulon Progo berawal dengan masuknya hewan ternak terpapar.
Peternak ataupun pedagang sapi memaksakan unruk membeli ternak yang terpapar PMK.
Dengan harapan ternak dapat disembuhkan dan mendapat keuntungan. Padahal hal itu membahayakan ternak yang dipelihara di sekitar kandang. Lantaran, dapat ikut tertular PMK.
Vaksin PMK dinilai dapat mencegah dan memutus rantai penularan PMK. Tren penurunan kasus PMK, paling utama berasal dari serapan vaksin yang optimal.
Saat ini, Dispertapa terus berupaya menggenjot penyerapan vaksin dan melakukan pendampingan ke peternak. Harapannya, PMK dapat mencapai nol kasus, terutama saat Idul Adha. (gas)
Editor : Bahana.