Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gula Semut dari Hargorejo Kulon Progo Berhasil Tembus Pasar Ekspor, Wakil Menteri Pertanian Sebut Bukti Hilirisasi Produk Pertanian Terwujud

Anom Bagaskoro • Jumat, 21 Maret 2025 | 03:26 WIB

 

 

PRODUK LOKAL: Gula semut dari Kulon Progo berhasil dikirim ke Kanada dan Malaysia. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono secara simbolis ikut melepas ekspor gula semut perdana
PRODUK LOKAL: Gula semut dari Kulon Progo berhasil dikirim ke Kanada dan Malaysia. Wakil Menteri Pertanian Sudaryono secara simbolis ikut melepas ekspor gula semut perdana
 

 

KULON PROGO - Produk gula semut dari Hargorejo, Kokap, Kulon Progo berhasil menembus pasar ekspor. Pengiriman produk lokal ke Kanada dan Malaysia ini langsung dilakukan oleh Wakil Menteri Pertanian Sudaryono Kamis (20/3).

Sudaryono menyebut, gula semut merupakan produk pertanian. Lantaran, bahan bakunya berasal dari nira pohon kelapa yang dibudidayakan petani setempat.

Produk gula semut adalah hasil hilirasi yang mampu menembus pasar ekspor. "Potensi produk turunan dari nira kelapa cukup banyak, dan tidak hanya ditemui di Kulon Progo," ucap Sudaryono saat pelepasan ekspor.

Sudaryono mengklaim produk pertanian perlu digenjot menjadi produk turunan lainnya. Hal itu, mampu mendongkrak nilai jual dan cukup banyak diminati pasar mancanegara. Potensi inilah yang harus dimanfaatkan oleh masyarakat dan petani.

Untuk mendukung itu, pihaknya berupaya mengoptimalisasi produk turunan dan mengekspor ke luar negeri. Salah satu caranya, dengan kolaborasi antara Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan. Dampak dari terwujudnya kolaborasi akan langsung dirasakan pada kesejahteraan petani.

"Tadi kami mendengar keluhan petani yang kesulitan memperoleh sertifikat organik," ujarnya.

Dalam hal gula semut, sertifikat organik sulit didapat dan membutuhkan biaya besar. Oleh sebab itu, pihaknya berkomitmen untuk membantu mempermudah upaya sertifikasi. "Kami kaji, untuk mempermudah pengurusan sertifikat," ujarnya.

Sudaryono menjelaskan, secara spesifik pengembangan produk pertanian kelapa masih memiliki tantangan. Berupa memanen nira atau buahnya. Melihat kondisi itu, pihaknya juga akan mengkaji penggunaan teknologi pertanian kelapa. Tujuannya agar produksi produk turunan kelapa dapat berkesinambungan.

 

Sementara itu, Ketua Koperasi Induk Nira Lestari Arif Singgih Purnomo membenarkan adanya kendala sertifikasi organik. Oleh karena itu, ekspor perdana ini, pihaknya masih menitipkannya ke champion nira kelapa. "Untuk mendapat sertifikasi organik butuh biaya dan waktu, biaya sekitar Rp 150 juta tergantung luas lahan dan jumlah tanam," ungkapnya.

Pada ekspor perdana ini, pihaknya mengumpulkan hasil produksi dari petani di Kalurahan Hargorejo. Total nilai ekspor mencapai Rp 1,5 miliar.

Menurutnya, ekspor mampu menyejahterahkan petani lokal. Lantaran, harga gula semut di domestik hanya dihargai Rp 50 ribu per kilogram. Sedangkan di luar negeri, tembus Rp 150 ribu per kilogram. (gas/eno)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#Nira #pasar mancanegara #ekspor #kanada #produk #pohon kelapa #Wakil Menteri Pertanian Sudaryono #Kulon Progo #Malaysia #Produk Pertanian #Hargorejo #Pasar Ekspor #sertifikasi organik #Petani #kokap #nilai jual #gula semut