KULON PROGO - Menjelang lebaran, toko baju yang biasanya ramai diserbu pembeli kini tampak lesu.
Penjualan baju menjelang lebaran justru mengalami penurunan.
Hal ini bisa terjadi akibat turunnya daya beli masyarakat.
Salah satu konsumen asal Kapanewon Sentolo Tarmi menyampaikan, dirinya tak ingin membeli baju baru seperti di tahun sebelumnya.
Padahal pembelian baju baru setiap lebaran telah menjadi budaya di keluarganya.
"Biasanya sudah beli, tapi sekarang tidak dulu," ucap Sutarmi, Selasa (18/2/2025).
Sutarmi menjelaskan, membeli baju lebaran sekarang telah menjadi kebutuhan tersier.
Lantaran, keluarganya lebih memilih membeli kebutuhan pokok untuk kecukupan jelang lebaran.
Hal ini juga diperkuat dengan kenaikan harga bahan kebutuhan pokok menjelang lebaran.
Beberapa komoditas bapok mengalami kenaikan signifikan. Membuat pembeli harus selektif memilih barang yang dibeli.
Hal serupa juga diungkapkan penjual baju di Pasar Wates Jaimalis.
Menurutnya, momen lebaran tak berpengaruh pada penjualan baju.
Bahkan setiap tahunnya, toko baju tak bisa mengeluarkan stok baju yang dimiliki akibat menimnya pembeli.
"Setiap tahun penjualan justru menurun," ucapnya.
Menurutnya, penurunan penjualan diakibatkan daya beli masyarakat yang mengalami penurunan.
Lantaran, masyarakat lebih memilih untuk membeli kebutuhan pokok, dibanding kebutuhan sandang yang sebenarnya telah dimiliki.
Turunnya penjualan baju menjelang lebaran juga diperkuat dengan keberadaan pasar online.
Berkaca pada aktivitas penjualan baju di Pasar Wates, penurunan diperkirakan mencapai 90%.
Toko baju di pasar online kini mulai merubah kebiasaan masyarakat, yang beralih membeli baju melalui sistem online.
Lantaran, lebih murah dibanding dengan toko offline.
Jaimalis menambahkan, Pasar Wates bukan lagi rujukan pembeli baju saat lebaran. Akibatnya, banyak toko baju yang gulung tikar.
Lantaran, telah menanggung rugi akibat biaya operasional yang membengkak.
Sementara itu, Bupati Kulon Progo Agung Setyawan mengakui adanya penurunan daya beli masyarakat.
Dampaknya, berbagai sektor cukup terpengaruh. Dimungkinkan sektor retail juga mengalami penurunan omset.
"Bukan hanya di Kulon Progo, wilayah lain secara nasional juga mengalami dampaknya," ujarnya.
Agung menyampaikan, daerah lain mengalami penurunan daya beli masyarakat hingga mencapai angka 5%.
Akan tetapi, daya beli masyarakat di Bumi Binangun cenderung masih stabil di atas angka nasional yaitu 5,3%.
Daya beli masyarakat di Kulon Progo kini berada di posisi 6%. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva