KULON PROGO - Pergantian kepemimpinan menjadi angin segar bagi Bumi Binangun. Lantaran sudah tiga tahun lebih Kulon Progo dipimpin penjabat bupati yang tak memiliki legitimasi mengambil keputusan strategis.
Dilantiknya Bupati Agung Setyawan dan Wabup Ambar Purwoko, menjadi momentum balik.
Wabup Kulon Progo Ambar Purwoko menyampaikan, pihaknya telah menyusun target 100 hari kerja di masa kepemimpinannya.
Secara garis besar di dalam kampanye mereka, terdapat tiga sektor fokus utama.
"Ketahanan pangan, peningkatan kualitas pendidikan, dan penguatan ekonomi UMKM," ucap Ambar saat ditemui Radar Jogja Minggu (23/2/2025).
Ambar menyampaikan, dalam 100 hari kerja pihaknya akan memprioritaskan dua sektor, yaitu ketahanan pangan dan peningkatan kualitas pendidikan.
Dua sektor ini dipilih karena dirasa sangat berpengaruh bagi masyarakat sekitar.
Di sektor pertanian ia berkomitmen memajukan dengan target tiga bulan. Lantaran sektor pertanian merupakan penyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) terbesar. Hampir 20 persen PDRB Kulon Progo ditopang sektor pertanian.
Di sektor pendidikan, pihaknya ingin mengupayakan peningkatan kualitas pendidikan. Lantaran pendidikan memiliki peran penting dalam mengembangkan sumber daya manusia.
"Secepatnya akan terealisasi. Kami juga telah berkordinasi dengan OPD yang membidangi," ungkapnya.
Ambar pun menyampaikan kisi-kisi target 100 hari kerja. Pada sektor pertanian, pihaknya mengutamakan modernisasi pertanian menggunakan teknologi dan inovasi.
Selain itu, mengutamakan kepentingan petani dengan penyediaan akses permodalan dan pupuk subsidi. "Kami mengupayakan pusat agroindustri untuk meningkatkan nilai jual," ungkapnya.
Ambar menyampaikan akan mengupayakan pembentukan agroindustri Kulon Progo. Rencananya agroindustri akan memanfaatkan daerah kawasan tematik. Seperti wilayah penghasil melon, cabai, hingga komoditas lainnya.
Di bidang pendidikan, fokus pada peningkatan kualitas pendidikan. Dalam 100 hari kerja berupaya meningkatkan sarpras sekolah.
Lantaran masih banyak sekolah yang memerlukan sarpras untuk mendukung jalannya kegiatan belajar mengajar.
"Salah satu fokus kami yaitu merealisasikan peningkatan kesejahteraan guru dan tenaga pendidik," ungkapnya.
Ambar menyampaikan, dua fokus sektor itu akan bertahap terwujud selama 100 hari kerja. Dia berharap masyarakat ikut serta dalam mendukung program pemkab. Tentunya, ia tak menutup diri apabila masyarakat memberikan saran.
Dari Gunungkidul, Bupati Endah Subekti Kuntariningsih tak ingin berlama-lama dalam euforia pelantikan.
Bersama Wabup Joko Parwoto, ia langsung tancap gas di 100 hari pertama kepemimpinannya dengan program strategis yang menyasar kebutuhan nyata masyarakat.
"100 hari pertama adalah fondasi. Kami ingin memetakan prioritas pembangunan secara tepat agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat," ujar Endah.
Meski APBD tahun ini masih mengacu pada perencanaan pemimpin sebelumnya, Endah menegaskan, eksekusinya akan disesuaikan dengan pendekatan yang lebih tepat sasaran.
Ia menyebutkan, infrastruktur adalah kunci penggerak roda perekonomian daerah.
Perbaikan jalan, jembatan, dan fasilitas publik akan dipercepat demi memperlancar konektivitas antarwilayah.
"Kalau jalannya bagus, akses wisata juga makin mudah. Wisata maju, UMKM pun ikut hidup. Itu yang kami kejar," ujarnya.
Sementara itu, UMKM lokal akan didorong naik kelas melalui pelatihan, digitalisasi, dan kemudahan akses permodalan.
Endah juga menyoroti pentingnya menarik investor sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
Namun, ia memastikan kemudahan perizinan harus tetap berpihak pada masyarakat.
"Kami butuh investasi, tapi bukan yang hanya menguntungkan segelintir pihak. Semua harus tumbuh bersama," katanya.
Di sisi lain, peningkatan kualitas pendidikan dan layanan kesehatan tetap menjadi prioritas. Fasilitas sekolah dan puskesmas akan diperbaiki, sementara program kesehatan preventif bakal diperluas ke pelosok desa.
Kepala Bappeda Gunungkidul Arif Aldian menambahkan, program 100 hari kerja ini akan diselaraskan dengan RPJMD 2025–2030.
RPJMD mengalirkan visi-misi kepala daerah ke dalam tujuan dan sasaran pembangunan lima tahun ke depan.
"Ini menjadi acuan dalam menyusun program tahunan, termasuk prioritas infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan," jelas Arif.
Program kerja bupati dan wakil Bupati akan mengacu pada visi-misi yang telah disampaikan dalam pelaksanaan Pilkada 2024.
Hal ini menjadi acuan utama bagi pemerintah daerah dalam menyusun RPJMD periode 2025–2030.
"Kami sudah mulai menyusun rencana pembangunan jangka menengah lima tahun ke depan berdasarkan visi-misi yang disampaikan saat pilkada.
Program 100 hari kerja juga akan disesuaikan dengan prioritas yang telah mereka tetapkan," ucapnya.
Namun Arif mengakui, komunikasi intensif dengan kepala daerah terpilih masih menunggu selesainya agenda retret di Magelang.
Setelah proses itu, pemerintah daerah akan menggelar rapat koordinasi membahas program prioritas, termasuk target 100 hari pertama.
"Setelah retret, kami akan membahas lebih detail terkait program-program yang menjadi harapan kepala daerah terpilih.
Ini akan menjadi acuan dalam menyusun program tahunan dan RPJMD," tambahnya.
Salah satu fokus utama dalam RPJMD adalah pembangunan infrastruktur yang mendukung konektivitas dan perekonomian daerah.
Arif menegaskan, pembiayaan infrastruktur tidak hanya mengandalkan APBD Kabupaten Gunungkidul, tetapi juga dana dari berbagai sumber, seperti APBD DIY, dana keistimewaan, dan dana alokasi khusus (DAK) dari pemerintah pusat.
"Biaya pembangunan infrastruktur memang besar, sehingga kami memanfaatkan berbagai peluang pendanaan, baik dari APBD daerah, provinsi, maupun program kementerian," tandasnya. (gas/ndi/laz)
Editor : Winda Atika Ira Puspita