Lantaran, pemangkasan justru membatalkan rencana pembangunan Saluran Irigasi Plelen, Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih.
Kepala Bidang Sumber Daya Air DPUPKP Kulon Progo Hadi Priyanto menyampaikan, dua saluran irigasi di Bumi Binangun terdampak pemangkasan anggaran.
Kedua saluran itu, berada di wilayah Kalurahan Sidomulyo. Tepatnya, di Padukuhan Plelen dan Kahyangan.
"Itu sudah kami anggarkan untuk realisasi di tahun 2025, hampir terealisasi tapi muncul surat edaran," ucap Hadi, saat ditemui Radar Jogja, Jumat (14/2).
Hadi menyampaikan, sebenarnya rencana pembangunan saluran akan terealisasi di 2025, dengan menggunakan Dana Alokasi Khusus.
Namun, di awal Februari muncul surat edaran menteri yang memangkas alokasi DAK. Menyebabkan paket pekerjaan saluran dicoret.
Nilai kedua paket pekerjaan ini, sekitar Rp 6,5 miliar. Anggaran tersebut digunakan untuk meremajakan dan membangun saluran sepanjang 3 kilometer.
"Mamng kondisinya tak represntatif untuk mendistribusikan air ke lahan pertanian," ucapnya.
Hadi menyampaikan, kedua saluran memang membutuhkan perbaikan. Lantaran, kondisinya mengalami kerusakan.
Selain itu, saluran ini memegang peran vital dalam distribusi air untuk lahan pertanian di Kapanewon Pengasih.
Pemangkasan DAK, dinilai akan mengakibatkan dampak domino.
Pasalnya, pengusulan kembali saluran irigasi akan dilakukaan kembali.
Membuat saluran irigasi yang seharusnya diperbaiki di tahun 2026, terpaksa ditunda terlrbih dahulu.
Sementara itu, Anggota DPRD Kulon Progo Fraksi PKS Jeni Widyatmoko menyayangkan langkah pemangkasan dari pemerintah pusat.
Lantaran, langkah itu justru bertentangan dengan program asta cita ketahanan pangan.
"Coba bayangkan, saluran irigasi Plelen menyuplai kebutuhan air untuk lahan pertanian 200 hektare," ujarnya.
Jeni menyampaikan, pentingnya saluran irigasi plelen bagi masyarakat di dapilnya. Saluran Plelen dinilai mampu menjawab masalah kebutuhan air untuk 200 hektare lahan.
Terlebih mayoritas masyarakat Sidomulyo merupakan petani, yang juga akan menikmati fasilitas saluran irigasi.
Selama ini, lahan pertanian di Sidomulyo kebanyakan hanya bisa melakukan panen selama sekali.
Lantaran, saat MT 2 suplai air tak mampu menjangkau wilayah terluar dari Sungai Serang.
Akhirnya sawah di Sidomulyo bisa dianggap sebagai lahan tadah hujan.
"Harapannya jangan sampai dipangkas, karena irigasi mendukung ketahanan pangan," pungkasnya. (gas)
Editor : Bahana.