KULON PROGO - Nasib Pelabuhan Tanjung Adikarta masih menjadi pertanyaan.
Lantaran, aset milik pemprov ini tak segera beroperasi, dan berujung mangkrak.
Akibatnya, tempat ini disalahgunakan oleh orang tak bertanggungjawab.
Kepala Bidang Ketentraman dan Ketertiban Umum Satpol PP Kulon Progo Alif Romdhoni menyampaikan, adanya laporan masyarakat.
Isinya berupa penyalahgunaan Pelabuhan Adikarta.
"Kami mendapat laporan dari masyarakat, pelabuhan digunakan untuk pacaran berlebihan (mesum)," ucap Alif, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Selasa (11/2/2025).
Alif menyampaikan, laporan masyarakat menyebutkan adanya aktivitas mesum di seputaran pelabuhan.
Pihaknya segera mengkonfirmasi itu, dengan mendatangi lokasi.
Namun, saat didatangi tak ada temuan terkait kasus mesum.
Pihaknya juga sempat menanyakan ke penjaga pelabuhan.
Justru dari penjaga pelabuhanlah diketahui adanya tindak asusila di sekitar pelabuhan hingga area sekelilingnya.
Sehingga, dengan pernyataan itu Satpol PP meminta agar penjaga melakukan tindakan preventif penjagaan.
Apabila ditemukan aktivitas mencurigakan.
Pantauan Radar Jogja di Pelabuhan Adikarta, banyak bangunan terbengkalai.
Bahkan gedung di depan area dermaga sudah lapuk termakan usia.
Atap bangunan yang seharusnya berdiri kokoh justru hilang diterpa angin.
Selain itu, banyak bangunan yang tidak berwujud bangunan lagi. Akibat, termakan karat dan terancam roboh.
Area dermaga kerap sekali dimanfaatkan masyarakat untuk tempat pemancingan. Biasanya ramai dikunjungi saat menjelang sore hari.
Sedangkan di area depan pelabuhan, terdapat gedung yang di pekarangannya ditanami tanaman cabai.
Pantauan Radar Jogja juga menunjukkan adanya aktivitas warung di sekeliling pelabuhan.
Sebelumnya, kebermanfaatan Pelabuhan Adikarta sempat dipertanyakan oleh Perwakilan Karang Taruna Kulon Progo Eka Herdi Nugraha.
Menurutnya, pelabuhan tersebut sama sekali tak memberikan manfaat.
Lantaran, selama ini tak beroperasi bahkan dibiarkan mangkrak begitu saja.
"Kalau dimanfaatkan tentunya sangat membantu perekonomian, sayangnya tidak," ucapnya.
Eka menjelaskan, dirinya merasa prihatin akibat pelabuhan tak bisa digunakan seperti peruntukannya.
Padahal keberadaanya telah menelan banyak uang negara, dan tak bisa berhasil beroperasi secara maksimal.
Menurutnya, keberadaan pelabuhan yang bisa bejalan optimal, mampu mendukung perekonomian sekitar.
Tak hanya untuk orang yang bekerja sebagai petugas pelabuhan.
Namun juga yang bekerja disekitar lingkungan pelabuhan.
Seperti penjual makanan, penyewaan rumah, bahkan nelayan yang nantinya singgah di sana. (gas)