KULON PROGO - Dampak cuaca buruk membuat Jalan Boro-Samigaluh mengalami penurunan elevasi. Penurunan menyebabkan setangah badan jalan ambles, hingga mengganggu arus kendaraan.
Kepala Seksi Pemeliharaan Jalan DPUPKP Kulonprogo Wuriandreza Gigih Muktitama membenarkan kejadian amblasnya jalan. Menurutnya, amblesnya jalan bukan termasuk kerusakan dan kegagalan bangunan. Lantaran, struktur talut masih utuh dan tak mengalami patahan. Justru bagian jalan saja yang mengalami penurunan elevasi sebesar satu meter. "Pada 2024 kami tinggikan, tetapi turun kembali saat hujan awal 2025," ucap Gigih, Selasa (28/1).
Gigih menyampaikan, amblasnya jalan berada di titik talut yang membatasi antara Jalan Boro-Samigaluh dengan Sungai Kedungdowo. Penurunan jalan terjadi di sepanjang talut sekitar 60 meter. Sedangkan, bagian talut setinggi 20 meter tak mengalami kerusakan.
Penurunan jalan ini membuat DPUPKP melakukan kajian mendalam. Pasalnya, jalan tersebut baru saja selesai dibangun di 2023 lalu. Jalan Boro Samigaluh sepanjang tiga km mengalami pelebaran dengan menelan anggaran Rp 15 miliar. Alokasi itu juga digunakan untuk membangun talud yang berada di titik amblasnya jalan.
Berdasarkan tinjauan lapangan DPUPKP, amblesnya jalan diakibatkan cuaca ekstrem yang berasal dari intensitas hujan tinggi. Kajian sementara, menunjukkan daya dukung tanah mengalami penurunan saat dihantam hujan lebat.
Sehingga membuat jalan mengalami penurunan, walaupun talud tetap berdiri kokoh. "Kasusnya sama seperti Jalan Sentolo- Nanggulan, di dekat sungai daya dukung tanah hilang," ujarnya.
Gigih menyampaikan, faktor geografis juga memperparah amblesnya jalan. Lantaran, jalan berada tepat di sisi sungai. Akibatnya, saat debit sungai naik, air akan menyerap di area tanah talut. Membuat bagian dalam dan dasar jalan mengalami penurunan.
Amblesnya jalan membuat, pihaknya terpaksa menutup setengah badan jalan dengan police line untuk sementara waktu. Sembari DPUPKP melakukan pemeliharaan rutin di 2025 ini. Perbaikan dimungkinkan akan dilakukan dengan menaikkan ketinggian jalan dengan alokasi Rp 100 juta. "Kalau dibongkar dan dibuat ulang biaya membengkak dan butuh kajian," tuturnya. (gas/pra)