KULON PROGO - Dinas Kesehatan Kulon Progo mencatat kenaikan angka demam berdarah (DB) sebesar 4 kali lipat di tahun 2024.
Kenaikan dinilai tak normal, karena tak sesuai dengan kajian siklus 6 tahunan.
Kepala Dinkes Kulon Progo Sri Budi Utami menyampaikan, terjadi pemendekan siklus DB.
Biasanya siklus DB akan melonjak setiap enam tahun sekali. Namun saat ini, kasus DB melonjak dengan siklus 2 tahunan.
"Trend kasus dengue secara nasional terjadi peningkatan Insiden rate, pemendekan siklus," ucap Budi, Senin (27/1/2025).
Budi menyampaikan, secara nasional terjadi pemendekan siklus tahunan dari enam tahun menjadi tiga tahun, bahkan kurang dari itu.
Di Kulon Progo pemendekan kasus menjadi siklus dua tahunan.
Pemendekan siklus telah disadari sejak tahun 2020, 2022, dan dikuatkan di tahun 2024.
Jika mengacu siklus lama, kasus DB akan mengalami kenaikan di tahun 2028.
Namun, kenaikan justru terjadi di di tahun 2022 dan 2024. Hal ini, menjadi kajian pihaknya.
"Data tahun 2024 kasus DB naik empat kali lipat dibanding 2023," ucapnya.
Budi menyampaikan, kenaikan DB terjadi hampir di 12 kapanewon.
Distribusi kasus paling banyak terjadi di Kapanewon Sentolo, Lendah, Galur, dan Wates.
Tingginya angka kasus di beberapa kapanewon, diakibatkan faktor geografis dan wilayah pemukiman.
Pasalnya, beberapa kapanewon merupakan pemukiman padat penduduk yang memiliki geografis penunjang perswbaran DB.
Kendati mengalami kenaikan kasus, DB di Kulon Progo cepat tertangani.
Lantaran, pihaknya terus mengintesifkan penanganan dan ditambah kesadaran masyarakat.
Terbukti dengan penurunan cases fatality, atau kasus kematian akibat DB.
Di Kulon Progo tak ada korban jiwa akibat demam berdarah.
"Kami berupaya untuk menekan angka kasus DB," ujarnya.
Budi menyampaikan, upaya menekan kasus DB terus dilakukan, terutama pemendekan siklus yang terjadi.
Dinkes melakukan penyelidikan epidemologi pada penemuan kasus di kapanewon tertinggi.
Data penyelidikan akan dijadikan acuan untuk penanganan.
Secara langsung, upaya penanganan berupa mengoptimalkan gerakan pemantauan jentik nyamuk yang dilakukan puskesmas dan masyarakat.
Selain itu, pihaknya juga mengintensifkan penanganan fogging di wilayah terdampak. (gas)