KULON PROGO - Peminat lowongan kerja di Bumi Binangun melempem.
Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kulon Progo mencatat rendahnya tingkat serapan lowongan kerja, dua tahun berturut-turut.
Pada 2024, tercatat sebanyak 8.000 loker namun yang mendaftar hanya setengahnya. Yakni, 4.000 orang.
Demikian juga tahun 2023. Jumlah lowongan kerja mencapai 8.813.
Dari jumlah tersebut, hanya 4.268 orang yang minat mendaftar. Dan yang diterima hanya 3.458 pekerja.
Kepala Disnakertrans Kulon Progo Bambang Sutrisno menyampaikan, serapan loker di tahun 2024 hanya bekisar di angka 58% dari 8 ribu loker.
Serapan ini tergolong rendah, jika dibandingkan dengan ketersediaan loker.
"Salah satu penyebabnya yaitu mentalitas dan pilih-pilih pekerjaan," ucap Bambang, Rabu (15/1/2025).
Bamsut sapaan akrabnya menyebut, rendahnya serapan loker akibat mentalitas pencari kerja.
Banyak pencari kerja di Kulon Progo yang mencari pekerjaan formal dengan mempertimbangkan posisi jabatan di sebuah perusahaan.
Sehingga, banyak loker formal yang justru menyerap pekerja justru tak diminati.
Selain itu, pencari kerja memiliki karekteristik pilih-pilih pekerjaan.
Pemilihan pekerjaan bukan atas dasar pekerjaan gaji, melainkan gengsi.
Banyak pencari kerja yang menghindari pekerjaan di lapangan, dan memilih pekerjaan kantoran.
"Loker office boy di sektor formal tidak diminati, padahal gajinya di atas UMK," tuturnya.
Selain office boy, pekerjaan di sektor formal yang tidak diminati, yakni, cleaning service dan buruh pabrik.
Bamsut menyampaikan, rendahnya serapan loker akibat mentalitas menjadi pekerjaan rumahnya.
Lantaran, angka pengangguran dan kemiskinan perlu dikurangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Di sisi lain, pencari kerja di Bumi Binangun memiliki kecenderungan pilih-pilih pekerjaan.
Selain serapan pekerjaan, Disnakertrans Kulon Progo menghadapi masalah rendahnya mentalitas pekerja asal Bumi Binangun.
Banyak kasus kegagalan pasca rekrutmen pekerja yang melalui pihaknya.
"Sebutannya Muntaber, Mundur tanpa berita," ucapnya.
Bamsut menyampaikan, banyak pekerja asal Kulon Progo yang berhasil di salurkan Disnakertrans untuk bekerja ke luar kota.
Namun, pekerja itu jutru mengundurkan diri setelah dikirim jauh dari asalnya.
Kebanyakan yang mundur beralasan dengan beratnya tekanan pekerjaan hingga jauh dari rumah.
Biasanya kasus ini setingkali ditemui pada pekerja yang bekerja di luar pulau atapun di Jabodetabek.
Padahal pekerjaan mereka berada di industri manufaktur dengan penghasilan tinggi.
Bamsut menduga pekerja memiliki mentalitas yang rendah.
Sehingga, memutuskan untuk berhenti bekerja pasca diterima. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva