KULON PROGO - Era digitalisasi mendorong pemerintah kalurahan membuka pelayanan dan keterbukaan informasi.
Namun, hal ini justru terkendala akibat puluhan kalurahan belum tersambung fiber optic yang difasilitasi pemerintah daerah.
Lurah Salamrejo Dani Pristiawan mengeluhkan kalurahannya tak tersambung fiber optic.
Saat ini, kantor Kalurahan Salamrejo menggunakan tower tembak dan jaringan internet swasta.
Tentunya penggunaan jaringan ini, membutuhkan biaya banyak.
"Sebulan kisaran Rp 200 ribu, itu untuk internet dari penyedia swasta," ucap Dani, Selasa (14/1/2025).
Dani menyampaikan, untuk operasional pelayanan dan keterbukaan informasi pihaknya perlu merogoh kocek dalam-dalam.
Lantaran, jaringan internet dari tower tembakan dinilai tak mumpuni.
Terkadang, internet mengalami penurunan kecepatan.
Sehingga, perlu layanan internet tambahan dari swasta dan berbayar untuk mengakomodir.
Padahal kalurahan dituntut menerapkan digitalisasi dan pelayanan dengan metode online.
Tujuannya, untuk meningkatkan pelayanan dan keterbukaan informasi ke masyarakat.
"Kalau bisa fiber optik, karena kecepatan dapat mendukung kinerja kami," ucapnya.
Dani menyatakan, fiber optik dinilai dapat mendukung kinerja kalurahan.
Lantaran, kecepatan internet melalui fiber optik cukup tinggi.
Sehingga, pelayanan yang berbasis internet dapat berjalan secara normal.
Selain itu, petugas juga dapat memantapkan kinerja mereka dengan dukungan sarpras yang lengkap.
Dani berharap agar pemkab dapat membantu penyediaan fiber optic.
Pasalnya, selain kebutuhan internet, pihaknya ingin mendorong masyarakat untuk tak gagap teknologi.
Jika fiber optic dapat tersambung, pihaknya dapat membuat titik-titik baru untuk tempat wifi umum.
Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kulon Progo Agung Kurniawan menyampaikan, terdapat 33 kalurahan dari 87 kalurahan yang belum tersambung fiber optic internal dari pemda.
Tersambungnya fiber optic digunakan untuk pelayanan di kalurahan.
"33 kalurahan masih menggunakan tower bantuan," ucap Agung, saat ditemui Radar Jogja di ruang kerjanya, Selasa (14/1/2025).
Agung menyampaikan, kalurahan yang tersambung biasanya menggunakan tower tembakan.
Tujuannya, untuk mendapatkan fasilitas internet yang memadai untuk pelayanan dan operasional kalurahan.
Tower tembakan merupakan fasilitas yang disediakan oleh Diskominfo untuk setiap kalurahan.
Kendati disediakan, peforma tower tembakan tak sepraktis fiber optic.
Lantaran, tower tembakan menggunakan metode transfer radio.
Metode ini sangat bergantung pada cuaca dan faktor geografis.
Dimungkinkan jaringan internet tak secepat dengan fiber optic.
Selain pada 33 kalurahan, sambungan fiber optic juga belum menjangkau 6 fasilitas umum lainnya.
Di antaranya 5 kantor kapanewon, dan RSUD NAS.
Kebanyakan fasum memang telah dilewati jalur fiber optic milik swasta.
Namun, untuk fiber optic yang disediakan pemerintah belum tersedia.
"Kami berusaha menyediakan penuh untuk fasilitas, dan menjamin ketersediaan," tuturnya.
Agung menyampaikan, pihaknya terus berupaya menyediakan layanan internet ke seluruh kalurahan.
Untuk fiber optic terus digenjot oleh pihaknya, sedangkan untuk sementara waktu kalurahan dapat menggunakan tower tembakan.
Di tahun 2025 ini, pihaknya telah menganggarkan Rp 500 juta untuk menyambungkan fiber optic di 4 kalurahan. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva